Perjalanan ke Turki 2007 (2)

2007 Juli 13
by bisma

Bisma in Turkey

p6200152_resize.jpg

Turki merupakan negara yang memikat hati saya sejak pertama kali saya mengunjunginya. Pertama kali saya menginjakkan kaki di negara itu di tahun 2000. Ketika itu saya sedang di tengah-tengah masa studi saya di Inggris. Dibandingkan dengan Inggris (Scotland, tepatnya) yang duanginnnnn….(hm, sempet -7 derajat Celcius gitu lo), Turki benar-benar memberikan saya kesegaran dan kehangatan yang saya butuhkan.

Mengunjungi negara Turki seperti mengunjungi museum raksaksa. Apalagi Istanbul. Tempat-tempat seperti Topkopi Palace, Blue Mosque, Sophia Hagia, dan lainnya penuh dengan sejarah dan visual yang menakjubkan. Belum lagi masyarakatnya : ramah, sangat friendly dan perempuannya…..hmm, cakep-cakep! (hehe…perpaduan Timur dan Barat sih).

Yah, Istanbul yang dibelah oleh Selat Bosphous memang terletak di benua Asia DAN Eropa. Jadi wajar kalau memang ada perpaduan antara Eropa dan Asia di dalamya. Ibarat makanan, Turki adalah gado-gado raksaksa. Itu baru satu sisi.

Sisi lainnya adalah suasana ’sekuler’ yang melingkupi masyarakatnya. Ini adalah buah dari proses nasionalisme yang dilakukan Kemal Attatruk. Mesjid menjadi museum dan tarikat-tarikat yang ada dan tumbuh beratus-ratus tahun di sana (Mevlevi, Bektashi, Rifai, Helveti, Jelveti, dll) ‘menghilang’. Pengertian ‘menghilang’ ini untuk menunjukkan bahwa ada masa dimana tarikat dilarang. Dan mesti kegiatan sufistik berlangsung, hal ini dilakukan di kelompok-kelompok kecil yang saling bertemu di rumah anggotanya.

Tetapi hal itu saat ini juga sedang mengalami perubahan. Saat ini, dengan adanya peringatan Mevlana 800th Anniversary oleh Unesco misalnya, Turki mulai membuka lagi pintu untuk sufi, tarekat dan agama. Tetapi ini baru dalam tataran budaya karena kalau kita melihat gejolak politik yang ada di sana hari-hari ini, kita bisa menemukan rivalitas antara kaum agamis dan nasionalis.

Ah, cuapek ah ngomongin politik. Mending ngomong tentang makanan. Makanan di Turki kebanyakan berupa roti dan daging. Jadi kalau mau cari nasi (perut Indonesia) yah, agak-agak susah. Meskipun ketemu, pasti tidak akan senikmat nasi Indonesia.

Yah, segitu aja dulu ya ceritanya. Nanti mungkin bisa kita sambung lagi….

Belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS