
Pak Harto wafat ahad siang jam 13.10. Pada detik yang sama, Bu Sumayah, merasakan nyeri di dadanya lalu terduduk di pasar Beringharjo, tak bergerak lagi selamanya. Nun jauh di Amerika – pada detik yang sama, Patrick Nicholson, meninggal tertabrak supir bis yang mabuk. Di waktu yang sama, detik yang sama, dengan presisi yang tak terpirakan, tangan kematian merengkuh ribuan nyawa di seluruh dunia. Anak-anak, tua, muda, laki dan perempuan, menghembuskan nafas mereka yang terakhir dan menyebrang ke terminal hidup selanjutnya.
Jika hidup adalah kumpulan binary opposition, maka selalu ada pasangan bagi segalanya: hidup – mati, bahagia – sedih, miskin – kaya, baik – jahat dan seterusnya. Kematian juga adalah sesuatu yang wajar dan –kalau boleh dibilang- sangat manusiawi. Di beragam kisi kehidupan kita, kematian selalu hadir menghiasi perjalanan hidup. Kematian menyiratkan hilangnya orangtua, teman, orang-orang yang kita hormati, cintai maupun kita benci dari diri kita. Kematian menyiratkan perpisahan dan perjumpaan lain yang lebih subtil dari mereka yang meninggalkan kita. Kematian adalah milik manusia, yang berposisi sebagai mahluk yang fana.
Kematian juga sebuah konsekuensi hidup. Dan bagi beberapa orang, ia juga dapat menjadi solusi. Kurt Cobain, salah satunya. Kematian juga dapat menjadi tragedi, meninggalkan misteri dan menjadi sesuatu yang monumental karenanya. Kematian Putri Diana dari Inggris memperlihatkan hal ini. Bahkan kejadian itu hampir mengangkatnya menjadi sosok yang disucikan.
Di sisi lain, bagi Budha, Isa AS, Bunda Theresa, Gandhi, Rasulullah dan sebagainya, kematian bukanlah akhir. Berkah, rahmat dan kasih sayang yang mereka pancarkan tetap bersinar di hati orang-orang yang bahkan tak mengenal mereka secara langsung. Bimbingan, cahaya kehangatan serta samudera belas kasih yang tak berujung tetap mengalir kepada jutaan orang yang mengikuti ajaran-ajaran mereka.
Seorang bijak pernah berkata: “Kematian seseorang merefleksikan kehidupannya. Dan kebangkitannya nanti akan merefleksikan cara kematiannya”. Bila ia baik, maka pastilah ia akan wafat dengan cara yang baik dan – insya Allah – akan dibangkitkan lagi dalam kebaikan.
Sepertinya kata-kata itu mesti kita telaah dalam-dalam, ya…
Posted by agusampurno on Februari 19, 2008 at 5:24 am
Amin,
Mas Bisma
Ulasannya menyentuh dan memanusiakan.
maafkan saya baru sempat singgah.
Ijin kan saya untuk mantautkan ya
Posted by bisma on Februari 20, 2008 at 3:07 am
Terimakasih atas komentarnya. Ditunggu lagi ya!
Silahkan untuk mentautkan link Anda.
Posted by tatarrimalati on Maret 8, 2008 at 9:26 am
di dalam dunia yang semuanya bisa diperjualbelikan dan ketikaadilan menjadi sesuatu yang lumrah maka “KEMATIAN” lah satu-satunya kebenaran dan keadilan yang hakiki. dan “KEMATIAN” juga yang membuat nasib dan derajat semua manusia di bawah matahari adalah sama
Posted by bisma on Maret 15, 2008 at 6:59 am
Setuju….
Mudah-mudahan semua yang baca posting ini juga berpendapat sama.
Posted by insani on April 8, 2008 at 8:44 am
Sejauh aku berfikir …………….. tak lepas dari sebuah hembus kematian……… andaikan itu benar ”’ Mungkin aku akan bekam ( inggris ) better ( wafer ) 2 ( Dua ) Hari.
“Akan menjadi lebih baik hari ini ”
just willing’s……………..