education.jpg

Nietzche pernah menulis :

“Apakah tugas seluruh pendidikan tingi? Mengubah manusia menjadi mesin. Apa sarananya? Orang harus belajar untuk tahan menjadi bosan. Bagaimana hal itu dicapai? Dengan konsep kewajiban. Siapakah yang dipakai sebagai model? Para filolog: dia mengajarakan bagaimana menumbuk dan mencacah. Siapakah yang dipandang orang sempurna? Pegawai negara…” (dikutip dari ST Sunardi, Jurnal Kalam 8, 1996).

Abad berlalu sejak Nietzche menuliskan karyanya “ Also sprach Zarathustra”. Tapi adakah perbedaan yang benar-benar signifikan antara pernyataannya dengan kenyataan kita sekarang? Pendidikan tinggi kita masih mengarahkan manusia menjadi mesin yang bekerja di institusi pemerintah maupun swasta. Mereka adalah sekrup kecil dalam kerangka mesin yang besar. Bekerja dengan waktu yang tetap setiap harinya, dengan gerak tugas yang sudah diprogram oleh atasan mereka.

Mungkin kita juga sama seperti mereka. Takut dengan kekuatan sebenarnya dari potensi kita. Afraid of our own greatness. Memilih untuk menjadi manusia yang “biasa-biasa saja”. Memilih menjadi pengikut yang hanya bisa manut.

Jika saja kita dididik untuk menjadi manusia yang utuh. Yang bisa memaksimalkan dan mengembangkan potensi kita:

  • Saying yes, to life. Mengatakan “Ya” kepada kehidupan: mau mencoba hal-hal yang baru, sabar akan proses dan tak takut untuk jatuh bangun karena itulah kenyataan kehidupan.
  • Menyadari bahwa kita sebetulnya adalah sempurna. Kita adalah sosok yang utuh, sempurna dan lengkap baik oleh kelebihan maupun kelemahan kita. Kita tidak akan menuntut kesempurnaan dari orang lain ataupun afirmasi dari orang lain untuk hal ini.
  • Ukuran sukses adalah subyektif dan personal. Sukses bisa dilihat dari baiknya kita berinteraksi dengan orang lain, jumlah sahabat-sahabat baik yang kita punyai, seberapa sering kita membuat pasangan tersenyum dan sebagainya. Sukses tidak bisa digeneralisir menjadi mempunyai 4 rumah, berkeliling dunia setiap tahun, punya gaji tinggi dan sebagainya.

Saya tidak mengatakan tidak kepada kekayaan dan kesejahteraan. Setiap orang tentunya harus mempunyai financial support yang cukup agar merasa bahagia. Tetapi lebih penting menjadi bahagia, di dalam kondisi apa pun di waktu kapan pun. Karena kualitas kebahagiaan bukanlah sesuatu yang (secara esensial) ditentukan oleh faktor eksternal, tetapi lebih dari faktor internal. Dan rasa bahagia dapat mendorong Anda untuk menjadi sejahtera.

Seandainya pendidikan kita memfokuskan diri kepada konsep diri yang benar. Yang mendorong agar kita berusaha untuk menjadi yang terbaik, apa pun pekerjaan kita saat ini. Yang menjadikan kita kuat secara internal (mental, spiritual) sehingga ulet, tangguh dan juga sukses.

Semoga saja ide ini dapat terbang tinggi ke udara dan mendapat tempat di kawanan yang tepat. Semoga juga ia dapat menjadi kenyataan yang membumi oleh orang-orang yang tepat dan mempunyai komitmen yang kuat terhadapnya. Semoga….

3 Komentar

  1. Barangkali pernah membaca tulisan Andi Hakim Nasution ttg ketidaklayakan dan kelemahan ilmu dasar mahasiswa yg kuliah di PT.
    Persis spt yng digambarkan Nietzche.

  2. Aduh, maaf…belum sempat.

    Terimakasih sekali untuk infonya, nih.

    Semoga menjadi bekal yang berguna buat memacu saya untuk lebih serius mengajar mahasiswa-mahasiswa saya.

  3. Aduh, maaf…belum sempat.

    Terimakasih sekali untuk infonya, ya.

    Terimakasih atas kesediannya memberi komentar di blog ini.


Tulis sebuah Komentar

*
*