Hah? Apaan tuh? (Bang Jaja Miharja style).
Economics of Happiness (EoH) adalah sebuah pendekatan baru di bidang ekonomi. Pendekatan ini mengkaitkan antara kajian ekonomi dan psikologi. Saya menemukan istilah ini secara iseng-iseng ketika berselacar di dunia maya. Eh, jadi keterusan. Abis, menarik sih…
Menurut Carol Graham[1], Economic of Happiness (Ekonomik Kebahagiaan) adalah :
“..Is an approach to assessing welfare which combines the techniques typically used by economists with those more commonly used by psychologists.”
Baginya, walaupun para psikolog sudah lama menggunakan indikator ekonomi sebagai sesuatu yang berpengaruh kepada tingkat kebahagiaan seseorang tetapi baru akhir-akhir ini-lah para ekonom mulai mencoba untuk mengkaitkan keduanya.
Yang menarik dari pendekatan ini adalah asumsi dasar-nya yang berbeda banget dengan pengukuran GNP atau bahkan IPM (Indeks Pembangunan Manusia). Asumsinya terkesan utilarian. Artinya bahwa pembangunan yang dijalankan sebuah negara harus bertujuan untuk membahagiakan masyarakatnya. Padahal kan kebahagiaan sebenarnya bersifat subyektif? Apa yang membuat saya bahagian belum tentu membuat Anda bahagia. ‘Tul nggak?
Sebagai sebuah pendekatan, ia belumlah memunculkan sebuah tehnik yang padu. Sejauh yang berhasil saya ulik dari berbagai sumber, masing-masing penelitian yang dilakukan untuk mengukur kebahagiaan ini memakai pendekatan yang berbeda. Saya jadi terkenang pada postmodernisme. Postmodernisme yang lahir dari ranah arsitek dan seni akhirnya merambah bidang filsafat dan bahkan politik serta hubungan internasional. Akankah EoH juga akan menimbulkan geger dan tren baru di masa yang akan datang? Walahu’alam.
Di luar pertanyaan saya (yang nggak mutu itu, huahaha…), perkembangan baru ini memperlihatkan wajah interdisipliner dari ekonomi. Bahwa sebuah ilmu haruslah berkelindan dengan ilmu lain untuk mengungkapkan sebuah obyek fenomena. Batas yang getas dengan analisa dan pengukuran tersendiri sepertinya semakin menjadi mimpi masa lalu. Nggak heran2 amat sih…bukankah kehidupan memang tidak pernah bisa dimaknai dalam satu sisi saja?
Tertarik? Link di bawah ini mungkin dapat membantu :
www.cascadianscorecard.typepad.com.
[1] Graham, The Economics of Happiness, Economic Studies Program–The Brookings Institutions, 2005, h.1
2 Komentar
Wah, Mas Bisma yang tertarik saya yang dapat ilmu nya.
Terima kasih sudah berbagi.
Semua bidang keilmuan disatukan dengan kata ‘hapiness’ sepertinya akan jadi ilmu yang ramah dan membawa kemaslahatan.
Amien Mas.
Mungkin yang belajar jadi ekonom mesti menetapkan moto : “Don’t worry be happy” nih.
Soalnya kalau ngeliat indeks harga-harga sekarang jadi susah untuk happy yah….hehehe.