“Kamu ingin anak yang pintar atau yang bahagia?”
“Yang pintar dan bahagia dong”.
“Wooo….itu mah namanya ngeborong. Kan sudah pakai kata atau. Jadi pilih salah satu dong”.
Pertanyaan itu mengemuka lagi di kepala saat anak-anak merayakan ulang tahunnya.
Tuhan, saya benar-benar berterimakasih atas amanah yang Kau berikan. Hidup saya menjadi lebih berwarna atas anugerah keduanya. Walaupun terkadang kekhawatiran tidak bisa begitu saja berlalu dari benak. Harus diakui bahwa membesarkan anak dalam suasana dunia saat ini, tidak mudah. Bujukan konsumerisme, narkoba, bullying dan pelecehan seksual hanya merupakan beberapa simptom yang harus dihadapi oleh kebanyakan orangtua akhir-akhir ini. Tapi tidak ada gunanya juga mengeluh, hidup memang harus dijalani dan bukan untuk diratapi.
Menginginkan mereka untuk pintar, berarti menjejali mereka dengan berbagai kursus di luar sekolah. Musik, bahasa asing, menari, menggambar hanya sebagian dari deret panjang tersebut. Tapi ini tentu saja harus difasilitasi dengan dana yang cukup. Aah…sulit. Lagipula melihat kelelahan mereka setelah sekolah, rasanya kok jadi nggak tega. Jika mereka sibuk dan kita pun sibuk bekerja, maka hari untuk berkumpul khusus hanyalah minggu. Cukupkah?
Aliran bahagia lain lagi. Anak tidak usah banyak les. Toh, yang penting mereka bahagia. Bisa bermain dengan teman, bersosialisasi sepuasnya tanpa banyak dibebani pikiran tentang pelajaran. Mereka masih dalam taraf bermain. Sepertinya belajar di sekolah pun sudah cukup. Masa kanak-kanak hanya dialami sekali lo.
Sepertinya oke ya. Tetapi tanggungjawab kami sebagai orangtua menyiratkan persiapan bagi mereka untuk menuju kedewasaan. Lagipula di tengah suasana kompetisi yang semakin ketat di masa mendatang, bisakah kita berpangku tangan melihat mereka tertinggal oleh anak-anak yang lain?
Dalam titik ekstrim dimana saya harus memilih, maka saya lebih memilih anak-anak untuk berbahagia. Kenapa? Karena dalam hidup saya, saya telah melihat terlalu banyak orang pintar yang tidak bahagia. Jangan salah, mereka adalah orang-orang yang pintar: akademisi, pebisnis handal, penulis dan lainnya. Tapi sayangnya, ada semacam “kesedihan yang terpendam” bila mendengar pembicaraan mereka. Ah, dunia.
Belum lagi kalau faktor pergaulan dimasukkan. Waduh, mendengar anak-anak jaman sekarang ikut liburan keluarga ke Singapura, Bali, Malaysia, Australi semakin menyesakkan hati para orangtua yang punya financial capacity pas-pasan. Belum lagi kalau mereka pamer atau adu hebat-hebatan mainan atau akseosoris sekolah (buku, tas dan lainnya). Aaarghhh….
Untunglah, kita nggak usah terlalu tegas dalam sebuah pilihan. Pilihan yang baik adalah yang mengadopsi beberapa jenis keuntungan di dalam dirinya. Saya percaya bahwa setiap manusia akan lebih mampu mengapresiasi kebahagiaan yang dipunyainya dengan ilmu. Banyak hal yang lebih indah, artistik dan membahagiakan dalam hidup jika kita mempunyai bekal pengetahuan yang cukup untuk menikmatinya. Kalau Anda?….


