MEMASAK

Inspirasi posting ini berasal dari tulisan Agus Sampurno disini.

Kami memanggilnya Little Wakil. Disebut begitu karena di tempat ini ada 2 orang bernama Wakil, dan sebagaimana Anda tebak dia lebih muda daripada Wakil satunya. Wakil bertanggungjawab atas keadaan dapur dan urusan masak memasak. Dia memang chef jempolan dengan pribadi yang hangat dan tampang kekanak-kanakan yang lembut. Saya menjumpainya di sekitar tahun 2000 pada saat kunjungan ke Inggris. Di tempat ia bekerja, memasak adalah sebuah bentuk pengabdian (service) yang kita sebut disini dengan ibadah.

Posisi juru masak di tempat ini bukan posisi yang gampang. Tidak mudah mengkoordinir menu, memasak dan menyediakan sajian bernutrisi cukup untuk sekitar 40 orang setiap hari. Di weekend, jumlah ini bisa mencapai 70 – 80 orang. Dan ingat, bahwa kita mempunyai standart yang cukup tinggi untuk soal makanan di sini.

Standart yang tinggi. Itulah fokus dari perhatian Wakil dalam setiap tindakannya. Dan ia mempunyai latar belakang pendidikan yang mengharuskannya demikian. Seperti juga seni yang lain, memasak adalah proses mewujudkan sebuah imaji dalam penggarapan dan bentuk yang detail.

Dan ini sangat korelasional dengan apa yang kita sebut kepemimpinan. Hah, emang ada hubungannya antara memasak dan kepemimpinan? Eits, baca dulu posting ini lebih lanjut…

  • Mengumpulkan bahan-bahan yang terbaik. Jika ingin masakan Anda bergizi, enak dan indah dipandang mata, maka hanya bahan-bahan yang terbaik-lah yang pantas Anda pakai. Di sisi lain, jika bahan-bahan tadi bukan yang terbaik tetapi jika pengolahan dan proses-nya canggih dan “sakti”, maka makanan yang sophisticated-pun bisa tercipta. Sama kan dengan proses seleksi staf yang ingin ikut dalam sebuah project? Kalau bukan staf yang cukup kredibel, Anda-lah yang dituntut untuk bisa mentranformasikan dan menciptakan the winning team.
  • Proses yang tepat. Pengetahuan tentang proses memasak makanan adalah krusial. Bagaimana cara memotong, mengiris, mengukus dan menggoreng merupakan skill dasar yang mesti dipunyai oleh seorang pemasak handal. Sama dalam bekerja, kita mesti mempunyai kualifikasi skill yang cukup untuk mengerjakan tugas-tugas kita. Pengetahuan dan keahlian dalam menjalani proses yang cukup berliku dan sulit adalah sesuatu yang harus kita kembangkan guna meningkatkan kualitas kerja kita.
  • Kemampuan Sinergi. Dalam memasak, setiap bahan masakan yang digunakan mempunyai fungsi sendiri-sendiri. Dan seorang koki yang baik dalam penciptaan sebuah masakan tidak menghilangkan rasa khas dari bahan-bahan tadi. Rasa bawang yang ditumis, wortel yang diiris, kaldu yang digunakan tidak menghilangkan rasa utama dari daging, ikan atau apa pun yang digunakan. Sebaliknya mereka berfungsi sebagai penguat (enhancement) dari rasa itu. Begitu juga dengan kepemimpinan. Bakat-bakat khas yang dipunyai oleh masing-masing project member disinergikan untuk menambah nilai kerja. Dan ini berarti menafikkan uniformitas dalam kerja.
  • It’s an art, not an accurate science. Memasak dan kepemimpinan sama-sama berwujud seni dan bukan ilmu eksak. Keduanya membutuhakan inovasi serta kreativitas yang tinggi dalam pelaksanaannya.
  • Penggabungan antara rasio, emosi, fisik dan spirit. Keduanya menghubungkan rasio, perasaan, spirit (semangat) dan gesture-gesture yang sangat fisikal. Angkat-angkat bejana, megang pisau ekuivalen juga dengan menelpon orang, berjabat tangan, meeting sampai larut malam dan sebagainya.
  • Penyajian yang menarik. Kita harus selalu menghadirkan konsumen di benak kita pada saat memasak atau memimpin project. Cari tahu lah bentuk yang paling sesuai dengan keinginan mereka. Makanan yang enak tapi miskin penampilan bisa jadi tidak menarik kan?

Kayaknya masih banyak sih yang bisa diangkat dari kegiatan ini. Atau Anda mau ikut menambahkan? Mangga….

Satu Tanggapan to this post.

  1. Satu lagi yang mau saya tambahkan, mungkin ini lebih spesifik..adalah Cinta, sebenarnya ini adalah penyempitan dari point lima pada tulisan diatas (Penggabungan antara rasio, emosi, fisik dan spirit.). Dari pengalaman saya di rumah, saya selalu merasakan masakan istri atau Ibu saya lebih enak dari masakan yang dibeli… Tidak ada hal yang paling membahagiakan ketika saya sedang berkumpul dengan keluarga dirumah sementara bau masakan istri saya tercium sehingga langsung mengundang selera makan saya….

    wah, ngomong masakan pas puasa….bikin jadi lapar euy. (Beruntunglah isteri2 yang mempunyai suami seperti pak Oki. Pasti makanannya abis terus….hehehehe).

    Balas

Tanggapi posting ini