Buku yang sukses (buat saya) biasanya dilihat dari 2 sisi; pertama, ia sukses dalam artian kualitatif. Artinya tentu saja jumlah buku yang terjual. Laris tidaknya buku ini dapat dilihat di toko-toko buku. Dari penempatan display-nya, hingga adanya sebuah tulisan karton di atasnya dengan label “buku laris”. Dalam kaitan ini, buku itu sukses dalam membuat pengarangnya mendapatkan penghargaan finansial tertentu dari penerbit. Penerbitan buku adalah sebuah arena bisnis dan karenanya margin profit yang didapat dari terbitnya sebuah buku menjadi indikator yang valid dalam menandai sukses tidaknya sebuah buku.
Selanjutnya, kesuksesan sebuah buku juga bisa dilihat dari bisa tidaknya ia menjadi trend-setter bagi buku-buku yang lain. Ini masuk dalam sisi kualitatifnya. Sebuah buku yang sukses, akan terlihat dari gelombang yang ditimbulkannya. Riak-riak yang muncul setelahnya hanya akan mengukuhkan kesuksesannya. Ambilah contoh novel Ayat-Ayat Cinta. Kesuksesannya memberi kegairahan baru akan novel yang berbalut religi (terutama Islam). Acara penandatangan buku, promosi di berbagai daerah, talk-show di media hingga pembuatan film yang berbasis padanya memperlihatkan bahwa buku ini layak masuk dalam kategori fenomenal. Tetralogi Laskar Pelangi dari Andrea Hirata juga masuk dalam kategori ini walau beranjak dari sisi yang lain. Berbasis pengalaman pribadi yang ditulis secara menarik dan imajinatif, karya ini memasuki tahap baru ketika ia diadaptasi menjadi bentuk film.
Lebih dalam lagi, saya rasa buku yang sukses adalah buku yang bisa menjawab kebutuhan masyarakat dalam suatu kurun waktu tertentu. Meningkatnya jumlah golongan menengah muslim di kota-kota besar membutuhkan novel yang membiaskan wajah Islam yang teguh tapi sekaligus lembut dalam tokoh Fachri di Ayat-Ayat Cinta. Menguatkan sekaligus menggetarkan. Karena cinta yang dikisahkan dalam novel ini dipotret dalam setting, alur dan penokohan yang lain dari biasanya.
Ikal, dalam tetralogi Andrea juga menjawab kebutuhan masyarakat untuk bisa bermimpi, berharap dan mengejar cita-cita yang didasarkan pada kenyataan dan bukan fiksi belaka. Ditengah minimnya contoh yang bisa benar-benar dijadikan refensi hidup, Ikal hadir dan menyadarkan kita bahwa setiap orang punya potensi untuk jadi legenda. Untuk berusaha menggapai – dalam batas-batas tertentu – cita-cita dan mimpi yang ada dalam dadanya. Ini sungguh merupakan buku inspiring motivator dalam bentuk novel otobiografi.
Faktor yang menyebabkan suksesnya sebuah buku, mungkin terlalu banyak dan tidak akan 100% terpahami. Tapi basic theory yang mendeskripsikan demand dan supply bisa menjadi salah satu sumber referensi. Setuju?


Posted by Gatot Widayanto on Mei 20, 2008 at 7:24 am
Wah .. ini buku juga sangat menggugah. Mas Bisma, ada buku lain yang juga bagus: THE FIVE PEOPLE YOU MEET IN HEAVEN by Mitch Albom. Wajib baca.
Nice blog.
Salam,
G
Posted by bisma on Juni 6, 2008 at 6:20 am
Thank mas. Alhamdulillah dah baca. I agree. It’s a really nice book. Full of meaning…