Lelah

Dan ijinkanlah kurebahkan jiwaku kepadamu. Ijinkan aku mendekat kepadamu sebentar saja. Sedikit saja. Sebentar, duh sebentar saja. Ingin kuserahkan keseluruhan lelahku kepadamu. Karena hari-hariku telah begitu melelahkan.

Sebentar, ah, sebentar saja. Rangkumlah aku dalam lembut dekapmu. Berhari-hari telah kulangkahkan hatiku ke dalam lingkar terdalam neraka. Di dalamnya ada ribuan suara yang memekakkan. Menggelapkan mataku. Menghimpit jiwa dan ragaku. Membuatku terhempas. Musnah. Dalam saat yang melabuhkan berjuta ragam nelangsa.

Terkadang kesendirianku mengutukku. Mentasbihkan aku untuk mengenyam semuanya sebagai takdirku. Tanpa mata untuk melihat. Tanpa hati untuk berbagi. Sudah sedemikian jauhkah aku menyesatkan diriku? Berkeliling dalam labirin yang gelap ini. Mencoba untuk berjuang. Dan mempertahankan perasaan ini. Ditemani oleh segenggam harap dan do’a. Ditengah kenyataan yang kian tak menentu.

Maka ijinkanlah aku melarut dalam lembut tatapmu. Biarkan aku terhanyut dalam denyut lembut jantungmu. Biarlah tangan lembutmu menguak tumpukan mendung di dalam kepalaku. Dan mengurainya satu per satu. Gulungan yang berkelit untuk kusentuh, bersembunyi di balik perisai diri.

Dan ijinkanlah aku terlelap sebentar. Biarlah kusublimkan tubuhku. Menjadi tetesan-tetesan air yang merembesi lantai dibawah kaki mungilmu. Menjadi kabut yang menyelimuti tubuhmu. Menjadi angin yang membelai dan berhembus di sela-sela rambutmu. Biarkan aku meruang dalam setiap udara yang kau hembus. Menembus dan membekukan waktu yang terdiam di sudut ruang rindu ini.

Dan ijinkanlah kurebahkan jiwaku ini padamu. Sebentar, duh sebentar saja. Dalam genangan airmata. Yang mengalir dari kedua mata kita….

Tanggapi posting ini