Berdasarkan data yang saya punyai, Subang mempunyai 8 pasangan calon Bupati yang berasal dari kalangan birokrat, ulama, pengusaha, politisi dan artis (5 calon partai dan 3 independen). Jumlah yang cukup banyak ini memperlihatkan adanya daya tarik politik yang sangat kuat di kota ini.

Saya tidak akan membicarakan tentang mereka di sini.

Politik mendasarkan diri pada pengaruh yang berkaitan erat dengan kekuasaan. Kekuasaan, menurut Miriam Budihardjo dalam Dasar-Dasar Ilmu Politik (Gramedia, Jakarta,2000) adalah kemampuan seseorang/kelompok untuk mempengaruhi tingkahlaku orang atau kelompok lain sesuai dengan keinginan dari pelaku.

Sesuai dengan siklusnya maka panggung politik lokal ini merupakan pemanasan bagi ajang politik nasional di tahun 2009. Rakyat sedang menunggu perubahan. Tidak hanya di tingkat lokal, nasional tetapi juga global. Persaingan antara Mc Cain dan Obama merupakan sesuatu yang menarik dan menjadi pembicaraan tidak hanya di kalangan rakyat AS. Pergeseran, wajah baru dan perubahan berkelindan dengan harapan. Sesuatu sedang terjadi. Dan entah kemana ia akan berujung.

Banyak harapan digantungkan kepada setiap calon yang maju. Secara realistis, dunia sedang membutuhkan penyegaran. Kontraksi ekonomi dunia yang mengarah pada stagflasi, krisis lingkungan hidup yang parah, tingkat pengangguran, harga-harga yang ‘meroket’ ke udara merupakan  kilasan dari wajah  dunia kita. Perubahan diharapkan dapat mengakhiri hal ini. Penggantian pemimpin akan membawa dampak segar bagi semuanya. Benarkah?

Politik selalu memposisikan diri sebagai yang elemen terpenting dari sebuah masyarakat. Tapi ia tidak dapat berdiri sendirian. Aspek sosial, ekonomi dan sistem politik dimana ia berada mempengaruhi proses politik itu sendiri. Dan harus diingat bahwa politik juga mempunyai kata kunci sebagai bagian vital darinya: kompromi.

Yah, kata ini merupakan pembenaran bagi pembegkokan idealisme yang semula diusung oleh para calon pemimpin, dimanapun ia berada. Dan melihat bahwa begitu banyak partai, calon dan pendukung yang mempunyai beragam agenda di benaknya masing-masing, maka kompromi adalah sesuatu yang sah dilakukan.

Atas nama kompromi, maka pada akhirnya perubahan yang diinginkan atau dijanjikan akan mengalami revisi, modifikasi agar sesuai dengan keinginan para stake holder sang calon. Janji yang diucapkan akan mengalami perubahan. Dan ini berlaku bagi semua orang.

Politik, merupakan salah satu cara untuk merubah sebuah keadaan. Tapi ia BUKAN SATU-SATU-nya jalan. Membuat perubahan adalah tanggungjawab pribadi dari tiap individu. Ia bukanlah sesuatu yang bisa diberikan kepada orang lain. Kita lalu hanya menutup mata, bersiul sambil menunggu ia datang. Perubahan datang dari diri lalu dipraktekkan di arena kehidupan. Mari berubah. Mari merubah. Dari sesuatu yang kecil. Dari dirimu sendiri….

2 Komentar

  1. Setuju, siapapun penguasa negeri, kita harus dapat melakukan perubahan, tetapi tetap menghormati dan mendukung penguasa itu, karena mereka yang terpilih

    Merdeka, pak!

    Rasa hormat memang penting dalam melakukan suatu perubahan. Tapi memang dalam proporsi dan tempat yang sesuai. Makasih atas kunjungannya…

  2. he he he untuk melakukan eprubahan sejatinya ada pada setiap diri manusia, dan tidak harus politik menjadi syarat untuk merubah… jadi lakukan saja saat ini dan sekarang juga untuk merubah dengan cara dan gaya kita masing-masing…

    mangga ah diantos uleman kopdar…

    gimana kalau ke stiesa aja deh…


Tulis sebuah Komentar

*
*