Ada 2 event besar dan agung di bulan ini: Olimpiade dan hari Kemerdekaan kita yang ke-63.
Tulisan ini merupakan refleksi atas kedua event tersebut.
Olahraga mengandaikan adanya persaingan yang sehat diantara pesertanya. Ini yang kerap disebut sportivitas. Sportivitas lahir dari kesadaran bahwa kemampuan tiap-tiap orang memang berbeda. Menampilkan yang terbaik, adalah sebuah keharusan. Tapi kemenangan bukanlah harga mati yang harus ditanamkan di hati. Karenanya, (idealnya) sportivitas hanya akan menawarkan persahabatan. Karena keberagaman prestasi yang ada bukan sekedar ekspresi unjuk diri tapi juga penghormatan atas usaha individu dengan hasil yang berbeda-beda.
Persaingan di lapangan merupakan buah dari persiapan yang panjang. Untuk memecahkan rekor waktu di lintasan yang hanya berjarak 100 meter, puluhan atlet menempa diri, berlatih selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Para penonton, pengamat hanyalah spektator yang melihat hasil akhir. Mereka kecewa karena ‘jago’-nya tidak menang. Mereka marah karena merasa bahwa sang atlit bisa berbuat lebih baik dari itu. Mereka alpa bahwa terkadang yang penting bukan hanya hasil akhir, tapi juga proses.
Kemerdekaan, juga sama. Untuk mencapainya, perlu waktu yang panjang dalam urutan tahun, puluhan bahkan ratusan. Dan ketika kita berhasil merebutnya, lalu kita gamang. Habis merdeka, apa lagi? Inilah problem eksistensialisme individu yang menempatkan dirinya sebagai center segala sesuatu.
Dari sini, kegelisahan itu harus diteruskan dengan melihat ke individu-individu lainnya dalam komunitas. Sehingga kita juga dapat merasakan apa yang mereka rasakan. Empati dan kebersamaan, merupakan kata kunci di sini. Dari kedua rasa ini maka kita mulai berjalan bersama dengan menggenggam harap, dalam karya. Saya nggak percaya bahwa kita bisa maju sendirian. Kesendirian, hanyalah sebuah fase, bukan tahap akhir dalam perjalanan kita yang panjang. Toh, di suatu titik, pintu akan terbuka dan uluran tangan akan ada. Selalu ada ruang untuk menyapa. Untuk berbagi. Untuk tertawa dan menangis dibawah atap langit yang satu.
Hasil dari kemerdekaan adalah berbeda untuk tiap individu bahkan untuk bangsa. Tapi mengapa harus marah dan kecewa? Sama seperti olimpiade. Hasil dari kemerdekaan kita bukanlah emas yang harus direbut sebanyak-banyaknya. Hargai saja apa yang kita punya. Dan teruslah melangkah ke depan…
4 Komentar
iya sih mesti sportif, tapi tetep sedih euy kalo liat tim indonesia kalah
Iya sih…tapi paling nggak kita bisa berkaca disitu: ya terang aja nggak menang, wong persiapan dan pembinaannya aja…… (isi sendiri yah? Hehehe).
ya good…..
terusin pak mudah2an kampus kita jadi pelopor kebangkitan olah raga di subang…he2…
salam pak buat seluruh dosen..
me kasih banyak udah ngedidik kita…
o ya pak maen ya pak ke blog saya…
lagi belajar nih..
Ok dech. Mudah2an nggak cuma jadi pelopor di bidang olahraga tapi di bidang pendidikan juga. Hehe….
Nuhun. Saya mau jalan2 ke blog-nya nih…
kemerdekaan adalah kebebasan untuk memilih. karenanya, kebebasan itu harus digunakan secara bijaksana untuk memilih jalan yang mulia. aminnn
Aminn juga….
waduh mbak, semakin terkagum-kagum daku….makasih mau mampir nih.