
Terorisme adalah tindakan yang membuat dan menyebar luaskan teror. Melalui tindakan individu yang didukung oleh organisasi, maka teroris menghasilkan adikarya teror yang mengalami pelipatgandaan masif via media. Dengan setting panggung yang berlumuran darah ala film action, teror ini menggiring para apresiatornya ke mindset yang penuh dengan ketakutan, kemarahan dan kecurigaan.
Bagai virus, maka aksi teror sangat bisa menghasilkan “kesakitan” nasional. Amerika sempat kalang kabut akibat aksi pemboman WTC. Peristiwa ini akhirnya melahirkan aksi invasi ke Irak yang menyebabkan hilangnya ribuan jiwa manusia di berbagai pihak. Perang ini juga mempunyai dampak tidak langsung ke daerah ekonomi. Defisit besar yang menyebabkan resesi global merupakan salah satu efek domino yang harus ditanggung oleh negara tersebut.
Secara internal, terorisme memunculkan rasa ketakutan serta kecurigaan di tengah-tengah masyarakat. Apalagi jika aksi teror ini mengatasnamakan ideologi (seperti agama) tertentu. Benang kehidupan yang telah susah payah dirajut bersama oleh masyarakat secara paksa telah dikoyak moyak. Akibatnya kecurigaan antar golongan tumbuh dan memperkuat stigma-stigma negatif yang dilekatkan kepada masing-masing kelompok. Padahal unsur “fundamentalisme” bukanlah milik ekselusif sebuah agama. Semua pohon agama dan ideologi yang besar akan mempunyai ranting berduri fundalisme di dalamnya.
Lalu apa yang harus kita lakukan? Jika tujuan utama dari aksi teror adalah untuk membangkitkan dan melipatgadakan ketakutan, kemarahan dan kecurigaan di tengah masyarakat maka kita dapat berkata “Tidak!” untuknya. Secara reflektif, kita dapat mengembangkan pola pikir yang berlawanan dengannya. Dengan adanya pola pikir yang berlawanan ini, maka kita akan melihat bahwa kohesi social yang berbasiskan trust menjadi sesuatu yang teramat mahal untuk ditukar dengan ketakutan.
Sebagai manusia, harusnya kita sadar bahwa hidup kita bersifat sementara. Dari semua mahluk, manusia termasuk entitas yang rawan terhadap penyakit, rasa sakit dan kematian. Karenanya hidup menjadi sesuatu yang begitu berarti bagi kita. Lebih logis kan kalau kita mengisi kehidupan kita yang fana ini dengan cinta, solidaritas, persahabatan, pemaafan dan hal-hal positif lainya? Hidup terlalu singkat dan sementara untuk diisi oleh hal-hal yang bersifat negatif.
photos from www.news.yahoo.com
Posted by Cadink on Juli 27, 2009 at 5:15 am
Mengutuk para pelaku terorisme..
Posted by Deni_borin on Juli 28, 2009 at 10:43 am
salam persahabatan dari Karawang
salam juga dari Subang…hehehe
Posted by wira on Agustus 3, 2009 at 10:57 am
say no to terorism…. kami tidak takut..
bener banget….jangan menyerah pada negativitas dunia…hehehe