REFLECTION ON GAZA

Saya tak pernah percaya bahwa kebencian dapat dilawan dengan kebencian. Kalau itu dilakukan, hanya Setan yang tahu siapa yang jadi juaranya.
Peluangnya, hanya cinta, pemaafan dan pengampunan yang bisa memutus lingkaran itu. Tetapi betapa susah untuk melakukannya. Kenapa? Karena manusia sangat gampang untuk melihat perbedaan dan susah untuk melihat perbedaan. Ini mungkin karena itulah hal pertama yang diajarkan kepada kita sejak kecil. Sejak kita lahir di dunia, orangtua kita mengajarkan kepada kita bahwa “ini ayah” dan “itu ibu”. Sejak kecil kita diperkenalkan untuk mengadakan pembedaan antara yang “ini” dan yang “itu”. Dengan cara observasi, kita mulai melakukan differensiasi antara “A” dan “B”, “kamu” dan “saya”.
Mungkin dari situ juga konsep kepemilikan muncul. Ketika manusia mulai bisa menyebutkan nama benda-benda maka ia menempelkan kepemilikan atas benda tersebut. “Ini mainanku”, “itu mainanmu”, “ini ibuku, bukan ibumu” dan seterusnya. Walau sebagai orangtua, saya hanya ngomong bahwa “bukan, ayah ini punya kakak dan ayahnya dedek juga”, saya sadar bahwa asumsi yang dilakukan oleh anak-anak itu tidaklah tepat. Nyatanya, saya merasa bahwa saya milik keduanya dan sekaligus bukan milik mereka berdua. Saya adalah saya, terlepas dari predikat apa pun yang ada di belakangnya.
Kembali ke masalah perbedaan, saya yakin bahwa proses pembedaan memang diperlukan dalam suatu taraf perkembangan manusia. Kita perlu tahu rasa asin yang berlawanan dengan manis, rasa sedih yang punya korelasi dengan gembira, punya referensi spectrum warna yang berlapis sehingga bisa mengapresi senja yang merah keungu-ungu-an. Sampai di sini, saya masih merasa bahwa perbedaan memang diperlukan.
Proses yang merusaknya adalah bahwa proses pembedaan ini ditempeli dengan sikap menilai yang bercorak hierarkis. Bahwa “saya” lebih tinggi daripada “kamu”, bahwa “kami” harus lebih hebat daripada “kamu”, bahwa “subyek” lebih punya nilai dan fungsi daripada “obyek”. Lebih parahnya lagi, subyek ini bisa menjalankan “obyektifasi” secara sembarangan. Akibatnya, tentu saja ada pemutusan hubungan antara “saya” (subyek) dengan kamu (obyek).
Inilah yang terjadi di level kesadaran (consciousness) para petinggi Israel yang meng-amin-kan agresi militer di Gaza. Manusia –atas nama obyektiftas – memutuskan perasaan empati agar “jarak imajiner” antara mereka, dapat dirasakan nyata dan benar adanya. Padahal, apa benar begitu?
Bagi mereka yang mempunyai teman orang luar negeri (bule, foreigner, whatever-lah), pernah tinggal atau pernah jalan-jalan ke luar negeri, tentu mengerti bahwa manusia (dimanapun ia berada), bagaimanapun ia merasa berbedanya dengan lainnya, pada dasarnya sama saja. Kita punya keinginan dan mimpi, emosi dan ekspektasi yang – walau berlainan – membentuk karakter dan menjadi bagian dari apa yang kita namakan : manusia. It’s an elemental thing that made us human.


Karena itu adalah sesuatu yang hakiki, sepatutnya tidak ada seorang-pun yang boleh mengambilnya dari orang lain. Mimpi tentang kebebasan, keterkaitan emosi antar sebuah bangsa dan suatu entitas yang dinamakan tanah air (Palestina) seharusnya bisa dicapai bersama tanpa harus mengorbankan mimpi dan emosi dari bangsa lain (Israel). Saya percaya bahwa banyak penduduk Israel yang merasa bahwa agresi ini salah. Dan bahwa ada segolongan masyarakat Palestina yang tidak menyetujui tindakan pengeboman yang dilakukan Hamas.

Sebagai manusia dewasa, selayaknya kita tak lagi melihat bahwa dunia adalah sesuatu yang hitam putih. Ada banyak warna abu-abu di sana. Bukan berarti bahwa kita permisif terhadap “grey area” tersebut, tapi kita sadar bahwa tidak ada sesuatu yang mutlak di dunia ini. Semua ada berpasang-pasangan, dan itu yang membuat dunia ini menarik.
Kalau saja kita bisa lebih arif melihat perbedaan yang ada. Kalau saja kita mengerti bahwa perbedaan bukan sumber dari kebencian tapi merupakan sumber kebahagiaan yang tak pernah lekang. Hmmm…..

fairy-1024

Iklan

2 thoughts on “REFLECTION ON GAZA

  1. Mari Berdamai Saja,,,

    Orang – orang yang Letih Menjerit
    Mari Berdamai dengan Langit
    Orang – orang yang Payah Merangkak
    Mari Berdamai dengan Jarak
    Angin telah Lama Jauh
    Cakrawala telah Lama Rapuh
    Suara – suara Tak Sampai ke Ngarai
    Gerakan – gerakan Tak Sampai Tujuan

    Mari Berdamai Saja ……

    Seteguk Coca-Cola bagi Tiap Jabat Tangan
    Seperangkat Tanda Mata Bagi Tiap Persetujuan

    Mari Berdamai Saja ……

    Keangkuhan Hanya Pada Gagak
    Keteguhan Hanya Pada Logam
    Ketabahan Hanya Pada Lautan
    Kepahlawanan Hanya Pada Lambang

    Mari Berdamai Saja ……
    Atau Bangkit…
    Atau Terkulai…

    setuju….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s