Tren Musik Melayu Saat Ini

Tren Melayu di belantika music Indonesia mengundang polemik. Hal ini terjadi seiring adanya komentar dari beberapa musisi tanah air yang mencap music jenis ini sebagai sebuah degradasi (penurunan mutu). Hal ini sampai menimbulkan kesan ‘perang dingin’ antara musisi yang –terus terang – membuat saya suka senyum-senyum sendiri. Sebegitu immature-nya kah musisi kita?
Menurut WIKI, perkembangan music Melayu di Indonesia telah mulai sejak lama. Dahulu, kita mengenal adanya music Orkes Melayu yang masih menggunakan gitar akustik, akordeon, rebana, gambus dan suling sebagai instrument utamanya. Pada periode 50 dan 60-an, orkes-orkes Melayu di Jakarta ini memainkan lagu-lagu Melayu Deli asal Sumatera (sekitar Medan). Perlahan, seiring perkembangannya, unsur India mulai juga masuk ke dalam music Melayu. Ellya Khadam dengan hits “Boneka India”-nya merupakan representasi dari gejala ini. Selain itu masih ada penyanyi lain seperti P.Ramlee (Malaysia), Said Effendi (dengan lagu Seroja) dan lainnya yang mempopulerkan genre music ini.
Tonggak perkembangan music Melayu (yang berkelindan dengan music dangdut) adalah dengan adanya Soneta Group, pimpinan Rhoma Irama di tahun 1970-an. Setelah itu, music Indonesia diwarnai oleh beragam genre yang merupakan unsur-unsur asing seperti Rock, Reggae, Heavy Metal hingga SKA dan Grundge (Alternative). Pada masa ini, musik Melayu memasuki periode hiatus alias mati suri. Hal ini terbukti dengan tidak banyaknya musisi baik solo maupun group yang mengusung genre Melayu. Di periode ini, lagu Melayu yang paling saya ingat adalah “Isabela” yang disuarakan grup Malaysia, SEARCH.
Namun sebagaimana jenis seni apapun (mo fashion, painting, dll), music juga mengalami proses recycle. Unsur-unsur Melayu yang pernah dinyatakan “mati”, usang dan nggak nyeni itu mulai ngetop lagi dengan adanya grup-grup seperti ST 12, Wali, Hijau Daun dan lainnya. Bahkan Soneta “reinkarnasi” kembali di sosok Ridho Roma.
Saya nggak bisa main music. Jangankan nyanyi, bersiul aja fales (hehe…). Tapi saya suka dengerin music (Indonesia ada di list atas lo!). Dan saya nggak suka kalau music terlalu dikotak-kotakkan. (Kotak kan nama band juga….loh, kok ngaco? ). Buat saya, lagu yang enak dan group atau musisi yang kreatif nan berbakat akan selalu punya pasarnya sendiri. Enggak usahlah kita sibuk membuat komentar yang nggak-nggak tentang orang lain. Kalau enggak suka dengan sesuatu, buktikan saja dengan kerja keras dan karya yang lebih bagus. Kayaknya itu lebih baik daripada bergunjing dan berkonflik dengan orang lain. Se7?….Yeah!.

Iklan

27 thoughts on “Tren Musik Melayu Saat Ini

  1. Betul! Jujur saja, yang tdk menerima musik Melayu, apapun istilahnya, hanyalah soal kalah menang dlm kompetisi. Hidup ini adalah pertarungan, yg tdk siap bertarung, enyahlah…

  2. Wah saya memang suka dengarin music2an namun dr yg namanya music seperti ungu,hijau daun,dn yg lain2nya juga memang asyik didengari tp kalau yg paling mengasyikkn dari lagu ialah grup malaysia2 seperti lagunya search,mega,damasutra,wings dan juga lela menurutku kalau kualitas suara dan lagu mereka sangat bagus…dari yang pernah saya dengarin salah satu diantara lagu2 grup mereka yg diatas.

  3. Itu tanda degradasi musik indonesia saat ini….

    maaf kata, secara musikalitas kualitas band2 baru yg mengusung melayu saat ini sangat buruk,mengingat kualitas band2 pendahulunya….

    sebut saja Mocca,Slank,Nidji,Naif…..coba bandingkan dengan band2 yg ada saat ini?….yg dapet terlihat hanyalah ketidakmampuan dalam menghasilkan suatu karya atau genre sendiri….itu semua di atur oleh pelaku2 bisnis yang sangat “TOLOL”,”BODOH” dan tidak dapat menyuguhkan kualitas kepada masyarakat…yang terpikir hanyalah UANG…UANG…DAN UANG….

    Hmm…for everyone had their own opinion….thanks atas masukannya nih…

    mau jadi apa rakyat indonesia kalau disuguhkan kualitas bodoh tanpa kreativitas seperti itu?….tadinya industri musik indonesia adalah yang terbaik di Asia Tenggara…..tapi sekarang?…..sudah menjadi pecundang melayu….

    • betul teman , musik indonesia lambat laun jadi gak mutu, dan biang semua kekacauan ini adalah mayor label, yg produsernya cuma mengatasnamakan pasar, f**k major label

  4. saya sama sekali tidak setuju atas tanggapan di atas…
    yang saya permasalahkan turunnya mutu musik melayu Indonesia…
    bukannya mengkotak-kotakkan musik,tapi coba bandingkan musik melayu yang disuguhkan jaman sekarang dibanding jaman dahulu!!
    pasti akan terasa profesionalitas musik yang sangat berbeda yang jelas mutu musik melayu sekarang sangatlah buruk…
    dengan penggarapan yang asal2an tanpa suatu konsep album atau lagu yang jelas…
    bahkan ada salah satu band melayu indonesia yang saya yakin dy merupakan plagiat band yang sama2 hidup di belantika musik Indonesia.
    saya contohkan Hijau Daun di single keduanya,jika anda dengarkan secara seksama anda akan mendengarkan style musik yang dimainkan sangat mirip dengan band yang sempat masuk list tertinggi “peterpan”.
    lagu yang mirip tersebut dapat anda buktikan di album peterpan yg taman langit… bahkan yang menebak kemiripan tersebut adalah adik saya yang masih berumur 7 tahun…
    sehingga saya berfikir bukan hanya saya yang menekuni dunia musik mengetahui hal tersebut ,tetapi adik saya yang masih SD bisa berasumsi seperti itu,saya bilang industri musik Indonesia jaman sekarang terlalu lembek tidak berpikir jangka panjang dan martabat musik Indonesia sangat terlupakan…
    KENAPA MUSIK ADA PKE MUSIM2AN, KLO MANGGA EMANK ADA MUSIMNYA… berikanlah dukungan kepada musisi2 yang benar memiliki karya murni yang hingga sekarang mencari jati diri dalam bermusik bukan malah mendukung penurunan kualitas musik seperti ini…
    akuilah kalau musik melayu sekarang sangat merugikan musisi2 yang telah mengangkat nama besar musik Indonesia…
    bahkan sangat merugikan musisi melayu terdahulu…

  5. Ping-balik: music melayu « music

  6. memang, semua orang bebas aja menyukai musik jenis apa aja. yang menjadi masalah bukanlah genrenya, melainkan kualitas liriknya. lagu-lagu melayu jaman dulu pun, seperti yang dibawakan penyanyi penyanyi orkes melayu jaman dulu itu memiliki kualitas lirik yang kuat dan bermutu. sebut saja Rhoma Irama, Ida Laila, Elvi Sukaesih, dan masih banyak lagi. lirik lirik lagu mereka mencakup semua aspek masalah kehidupan. kita bisa dengar bahwa, lagu lagu jaman sekarang banyak yang berisi tentang cinta melulu, caci maki antar kekasih, kesedihan di dalam hidup, menyerah pada nasib, dsb. apakah lirik lirik seperti itu dapat membangun kepribadian bangsa untuk menjadi lebih baik lagi? seharusnya, anak anak band jaman sekarang itu membantu mencerdaskan bangsa dan menyemangati perjuangan hidup bangsa Indonesia untuk bangkit dari krisis multidimensi, bukannya menjejali bangsa dengan lirik lirik cengeng dan bodoh yang tidak jelas arah tujuannya.

  7. Saat ini amat sangat banyak sekali lagu yang mirip dgn satu sama lain. Hal tersebut mungkin bukan faktor kesengajaan. Tapi, dikarenakan:
    ~1,2,3
    ~2,3,1
    ~3,1,2
    Mungkin hanya segelintir orang yang tahu maksudnya. Bisa jadi kesamaan lagu juga daya pikir A(pendahulu) dgn B(pendatang baru) adalah sama atau seimbang. Hanya saja orang2 yang sensitif, tidak mau memaklumi, dan asal tuduh.
    Saya pernah mengalami hal tersebut. Setahun yang lalu ketika saya masih duduk di kelas IX. Saya membuat sebuah lagu yang benar2 dari otak saya sendiri. Suatu ketika saya lewat di sebuah proyek pembangunan, dan..
    Tanpa disangka, diduga dan dikira, salah satu tukangnya menyanyikan sebuah lagu, yang sama nadanya dengan lagu ciptaanku. Membuat dilema!! Saya yakin musisi yang dituding plagiat juga demikian. Daripada urusan panjan ucapin aja “TERINSPIRASI”! Lalu mereka membuatt genre yang berbeda.
    Musisi Indonesia sekarang bertalenta sama dengan pendahulunya.

    • permasalahan musik yang mirip memang tidak bisa dihindarkan. Tapi itu kan sudah ada batasannya. tidak lebih dari beberapa nada, kalau tidak salah. menurut saya yang penting musisi fokus dengan apa yang dihasilkannya: karya. Dan apakah karya tersebut akan disukai oleh orang banyak. (Maaf kalau terlalu menyederhanakan permasalahan)…

  8. klo musik melayu dulu emang berkualitas n penuh penjiwaan bagi gw ga masalah, tp sekarang musik melayu terlalu didramatisir…sekarang didengar besok dibuang….musik adalah penuh warna bukan monoton kayak sekarang!!!!!!!!!!!!

    • Mungkin warna monoton itu terjadi karena semuanya terlalu mengacu pada mainstream. musik yang laku adalah musik yang diterima oleh PASAR. Sehingga ketika saat ini sedang ada lagu yang booming maka ditirulah habis-habisan oleh yang lain. Memang musik adalah sebuah industri dimana mekanisme supply dan demand berlaku. Tapi ada juga sisi idealisme dan kreativitas yang berdiri di sisi lainnya. Tinggal permasalahannya mau dibawa kemana karya Anda. Mau nge-balance-in emang susah kok…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s