KUAT ATAU SALING MELEMAHKAN?

Cicak lawan buaya? Siapa yang akan menang? Mungkin jawabannya tak lagi penting sekarang. Bak cerita sinetron yang penuh dengan intrik, perkembangan kasus KPK versus Kepolisian ini berkembang ke arah yang tak pernah terduga sebelumnya. Dan tentu saja, ia menjadi pemberitaan utama di berbagai media selama berhari-hari. Dan semua itu pada akhirnya membuat saya….capek sekali.

Dari berbagai sudut persepektif yang ada, biarlah saya mengambil sebuah celah yang kecil: betapa tampaknya bahwa kedua lembaga yang berada di area hukum dan pengadilan ini menjadi saling melemahkan. Heran, padahal kan ada peribahasa yang menyebutkan bahwa bersatu itu kuat…bercerai, ya kawin lagi (hehe….bercerai kita runtuh ding). Bahkan riset di bidang manajemen akhir-akhir ini juga menyebutkan pentingnya kerjasama yang kini disebut collaborative minds.

Mungkin kita salah dalam mempersepsikan sesuatu itu kuat dan lemah. Kuat, seringkali dipersepsikan sebagai sesuatu yang menguasai yang mampu dan mau membuat yang lain mengikuti kehendaknya, walau secara paksa. Mungkin persepsi ini diwarnai oleh pemikiran Barat dalam melihat kekuatan: ia bagaikan sesuatu yang kuat, teguh dan perkasa bak Achilles ataupun Zeus yang menguasai petir dan bertahta di Olympus. Kuat adalah sesuatu atau seseorang yang mempunyai kemampuan merusak terkuat…Punya misil nuklir paling banyak, misalnya…Amerika, contohnya (yah, ini cuma contoh ya…).

Tapi apakah kuat harus selalu sinonim dengan sesuatu yang bersifat menguasai dan merusak?

Dalam persepektif yang lebih bercorak Timur (spiritual), maka kekuatan adalah suatu kemampuan dimana kita bisa member lebih daripada menerima. Dalam Islam, ada pendapat bahwa “tangan yang diatas (yang memberi) itu lebih baik daripada tangan yang dibawah (yang menerima)”. Dan memberi dalam pengertian ini, tidaklah selalu identik dengan materi. Ia bisa saja berupa perhatian, kasih sayang, waktu dan lain sebagainya. Kenapa yang memberi dipersepsikan sebagai sesuatu yang kuat? Karena mereka yang punya kemampuan (dan keinginan) untuk memberi adalah mereka yang dapat “mendefinisikan” suatu hubungan. Mereka yang memberikan kasih sayang, mendefiniskannya menjadi hubungan kasih sayang. Dan mereka menjadi cerminan atau manifestasi dari kasih sayang itu sendiri.

Dalam konteks pertarungan antar KPK dan Kepolisian, semestinya harus ada pihak yang bersedia mengalah. Mengalah, tidak selalu berarti kalah. Bahkan dalam banyak hal, mengalah berarti menang. Contohnya adalah ketika ada 2 bersaudara yang sedang bertengkar. Yang lebih dewasa, seringkali mengalah. Dalam mengalah, kita mendahulukan hubungan daripada sekedar menjaga opini bahwa kita-lah yang paling benar.

Saat ini, melalui rangkaian pemberitaan di media, kedua pihak sudah bisa melihat kea rah mana opini masyarakat mengalir. Seharusnya, kedua belah pihak sudah dapat mengukur kemampuan masing-masing. Dan sebagai lembaga yang melayani rasa keadilan publik, egoisme institusi seharusnya dikesampingkan. Toh, kedua lembaga ini seharusnya saling menguatkan penegakan hukum di Indonesia, dan bukannya saling melemahkan.

Iklan

One thought on “KUAT ATAU SALING MELEMAHKAN?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s