MENYIKAPI KEHILANGAN…


Lelaki itu tertegun sambil memegang telepon. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, tanda tak percaya. Rasanya ia ingin teriak sekuat tenaga ke langit tapi tak ada suara yang dapat keluar. Sepertinya ada bagian dalam dirinya yang terbelah, pecah. Seperti ada yang mengiris hatinya dengan pisau. Dan luka itu dibiarkan di sana, menganga.

Dan hujan pun turun. Hujan yang membawa berita duka itu padanya. Kalau tidak malu sama orang sih, rasanya ia ingin berlari-lari di hujan itu. Biar airmata yang – begitu keras ditahannya – bisa tumpah sepuas-puasnya. Biar perasaan jiwanya bisa plong sepenuhnya. Tubuhnya mendadak lemas dan ia harus cepat-cepat ke kamar mandi untuk membasuh mukanya.

Berita itu menghantamnya tiba-tiba. Sebuah kabar tentang kehilangan. Seorang sahabat yang baru saja kehilangan belahan hatinya karena kecelakaan. Kehilangan yang begitu pahit. Begitu getir sehingga terasa begitu unreal. Mimpi di tengah hari bolong. Surreal, tapi nyata. Bukan sebaliknya.

Kenyataan yang membuat saya merenung tentang arti mendapatkan dan juga kehilangan. Tentang rasa memiliki yang begitu rapuh sekaligus kehilangan yang selalu membayang di keseharian. Tentang sebuah rongga di dalam dada yang bisa diisi berbagai asa. Tentang sesuatu yang bernama memori dan  ironi yang bisa menjadi penjara dan ruang yang penuh nyeri. Tentang rasa senang dan rasa sedih. Tentang kehidupan dan juga kematian. Tentang oposisi dan kebersatuan.

Ijinkanlah saya berbagi :

Marilah kita mulai dari premis yang paling awal: bisakah kita benar-benar kehilangan? Baik sesuatu atau pun seseorang? Jawaban normalnya adalah ya, pasti. Tapi marilah kita melihat situasi ini dari persepektif yang lain. Persepektif lain ini mengatakan sebaliknya: Anda tidak akan pernah bisa kehilangan sesuatu ataupun seseorang. Kok bisa? Lancang sekali untuk menyatakan sebuah pernyataan yang sama sekali tak berperasaan seperti itu. Apakah kepergian seseorang yang kita cintai itu hanyalah khayalan ataupun imajinasi semata? Tentu tidak, begitu kata Anda.

Ya, semua kehilangan itu adalah real jika kita melihat bahwa segala sesuatu adalah milik Anda. Tetapi bukankah kenyataannya tidak demikian? Realitasnya, semua hal, benda dan orang yang pernah bersentuhan dan menjadi milik Anda, pada hakikatnya adalah titipan semata dari-Nya. Bagaimana kita bisa merasa memiliki sesuatu jika jiwa atau nyawa yang ada dalam rongga dada Anda sendiri adalah sesuatu yang berstatus ‘pinjaman’. Dan jika Sang Pemberi Hidup dan kehidupan beserta segala isinya berkata “Jadilah!” dan meminta kembali amanat yang dititipkan-Nya, bisakah kita menolaknya?

Berangkat dari sini, kita seharusnya menyadari posisi kita sebagai hamba. Sebagai sesuatu yang sepenuhnya bergantung dan harus selalu merasa rendah diri di hadapan-Nya. Merasa bahwa segala sesuatu yang kita miliki, nikmati dan sayangi saat ini hanyalah sesuatu yang bersifat temporal. Something that was subjected to change. Cepat atau lambat, sekarang ataupun nanti.

Dalam posisi faqir (fuqara, serba berkekurangan) ini, kita merasa tidak mempunyai apa-apa. Karenanya ketika sesuatu yang baik terjadi pada kita, kita bersyukur. Dan ketika sesuatu ‘diambil’ dari kita, kita menyikapinya dengan kerelaan. Rela, karena kita melihat bahwa segala sesuatu mempunyai saat dan tempat-nya sendiri-sendiri.

There’s time and place for everything. For everyone.

“Tak ada yang abadi”, lantun Ariel (Peterpan).

Tetapi di sisi lain, kita tidak pernah bisa kehilangan sesuatu, justru karena semua itu sifatnya abadi. Jika kita percaya bahwa roh ataupun jiwa adalah sesuatu yang mempunyai aspek divinity, maka ia bersifat kekal dan abadi. Raga adalah pakaian yang semata-mata dapat dilepas jika waktunya tiba. Dan walaupun tak terlihat, kita bisa merasakan kehadirannya dalam kehidupan kita. Dan dengan do’a kita dapat bersentuhan dengan ‘kenyataan’ itu.

Terakhir, saya selalu merasa bahwa salah satu karunia terbesar manusia adalah imajinasi. Dengan imajinasi, sesuatu yang jauh menjadi dekat. Sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Sesuatu yang hilang, kembali dan bahkan dapat terasa lebih nyata dari sebelumnya. Memori jika digabung dengan imajinasi dan emosi dapat mewujudkan sesuatu yang tidak mungkin ada di dunia nyata.

“All I have to do is close my eyes. And I know that you’re beside me” lengking seorang penyanyi Barat.

Kapan saja rindu menyergap, bayangkanlah bahwa ia tidak pernah benar-benar pergi dari Anda. Anda punya akses untuk bertemu dengannya, dalam do’a, ingatan dan imajinasi Anda. Bukankah bagi kaum muslimin, kita (secara konstan) harus selalu membayangkan sosok sang Nabi Terpilih sebagai panutan kita dalam hidup? Jasadnya telah lama hilang, tapi dapatkah kita menegasikan pengaruhnya dalam kehidupan kita?

Saya beruntung bahwa saya belum merasakan kehilangan yang begitu dahsyat.  Isteri saya, baik. Anak-anak, Alhamdulillah tidak ada masalah. Begitu juga dengan orangtua, adik dan mertua saya.  Tapi semoga Tuhan memberkati saya dengan kerelaan jika semua itu berubah. Memberkati dengan keyakinan bahwa sesuatu yang hilang atau diambil oleh-Nya akan diberikan balasan secara sama ataupun lebih baik dari-Nya. Amien.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s