DEMOKRASI: VIRUS YANG MENYEBAR DI NEGARA-NEGARA ARAB

Dan benih revolusi di Tunis pun berhembus ke negara-negara lain. Di Mesir, ia jatuh, tumbuh dan mekar sebagai sebuah gerakan rakyat (people power movement) yang menuntut turunnya Mubarak. Akankah ia akan mengilhami juga perubahan di negara-negara lain di jazirah Arab lainnya?

Mari kita sedikit memperhatikan hal-hal berikut: Pertama adalah bahwa karakteristik sosial dan kultural dari negara-negara Arab itu tidak bersifat homogen. Artinya, kita tidak bisa menggeneralisir bahwa apa yang terjadi di Mesir, misalnya akan otomatis terjadi di tempat lain. Karakter rezim, pola kekuasaan antar elit lokal dan nasional serta situasi sosial yang dihadapi oleh masing-masing negara sangatlah berlainan. Kedua, transisi sosial dari sebuah negara akan sangat bergantung pada pilihan yang diambil masing-masing rezim. Semakin tinggi sikap demokratis yang diambil maka bisa dipastikan bahwa transisi demokrasinya akan semakin mulus. Pergantian kekuasaan sebetulnya adalah hal yang biasa di negara manapun. Tetapi pilihan untuk melakukannya melalui pemilihan umum atau jalan inkonstitusional adalah hak preogratif dari masing-masing rejim. Ketiga, kondisi ekonomi (baca: kesejahteraan) dari masing-masing negara akan mempengaruhi tingkat kepuasan dari rakyat terhadap rezim yang menguasainya. Semakin sejahtera sebuah negara, semakin kecil kemungkinan terjadinya pergolakan sosial yang mengarah pada pergantian rezim. Keempat, adalah peranan media dan pemihakan yang dilakukannya terhadap isyu maupun gerakan perubahan tersebut.

Hal menarik yang bisa diamati dari kasus Mesir adalah pentingnya peranan tehnologi (baca: internet) dalam memobilisasi massa. Adanya facebook dan twitter sangat mendukung pertukaran informasi yang terjadi antar kelompok massa sehingga isyu gerakan semakin meluas dan memanas. Mungkin beberapa tahun ke depan kita akan mendapatkan sebuah buku yang mengupas tentang ā€œPeranan facebook dan twitter dalam sebuah revolusi: studi kasus di Mesirā€.

Kembali ke pertanyaan awal, akankah ia juga akan mengilhami gerakan serupa di negara-negara Arab lainnya? Jawabannya bisa ya, bisa tidak. Sebagaimana sebuah virus, maka virus demokratisasi ini akan menyebar menjadi epidemi di seluruh negara Arab. Tetapi tentu saja, rejim yang berkuasa saat ini tidak akan tinggal diam dengan isyu-isyu perubahan ini. Nah, sikap pemerintahan dan kondisi sosial, media dan ekonomi yang berbeda-beda pasti akan melahirkan akhir yang berbeda bagi tiap negara.

So basically, sepertinya susah untuk mengharapkan sebuah efek domino (domino effect) dari perubahan yang terjadi di Mesir. Virus itu akan dan sudah menyebar tapi penanganannya akan berbeda di negara-negara Arab. Wallahualam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s