HATI YANG TERBELAH

Kesedihan. Kemarahan. Sesuatu berubah. Dan itu menyakitkan kita.

Ada hal-hal yang menyebabkan kita merasakan hati kita terbelah, pecah dan terserak. Kehilangan seseorang yang dekat dengan kita adalah salah satunya. Merasakan sesuatu yang berubah pada pasangan kita dan mulai merasakan kecemasan dan stress bahwa kita akan kehilangannya. Lalu pada saat kehilangan itu benar-benar terjadi, kita dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa ternyata impian kita, hubungan kita yang selama ini kita anggap nyata ternyata hanyalah ilusi yang menyesatkan.

Lalu dimualailah mimpi buruk itu: perasaan galau gemalau di saat bangun pagi, makan dan tidur yang tak nyaman, kesedihan dan kepedihan saat bayangan orang tersebut kembali berkelebat di ingatan dan sebagainya, dan seterusnya.

Hubungan, baik berupa hubungan emosional yang disebut cinta pertama maupun hubungan perkawinan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun tak kan pernah imun dari kekecewaan, kesedihan dan rasa sakit. Dan itu – dalam tingkat tertentu – adalah sesuatu yang wajar karena kita pada dasarnya tidaklah SEMPURNA.

Sewajarnya juga bahwa terdapat banyak cara untuk mengobati hati yang terlanjur terbelah tadi: dari mulai mengikuti yoga, kelas-kelas meditasi, berlibur ke tempat yang indah, membaca buku-buku self-help , memulai sesi terapi dengan seorang psikolog ataupun mulai aktif di berbagai kegiatan sosial agar kita memperluas jaringan pertemanan kita dan sebagainya, dan seterusnya.

Hal-hal tersebut bisa dan sah-sah saja dilakukan. Dan pada banyak kasus, hal-hal tersebut berhasil membawa kita keluar dari situasi yang tidak menyenangkan tadi. Namun pada beberapa kasus yang lain, tindakan-tindakan tersebut bagaikan meminum obat penghilang rasa sakit. Pada saat obat itu diminum, kita kebal terhadap rasa sakit tapi saat obat itu habis, penyakit itu masih ada dan terkadang malah tambah menyakitkan. Mengapa? Karena hal-hal itu hanya mengalihkan perhatian kita dari masalah dan bukan membuka mata dan mengubah pandangan kita terhadap permasalahan tersebut.

Semuanya bermula pada pandangan kita terhadap sebuah hubungan. Hubungan yang baik tentu mengandaikan adanya KESETARAAN dalam derajat tertentu. Hubungan yang bersifat asimetrikal tentu saja hanya akan menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak yang lain. Jika ini terjadi maka hubungan tersebut menjadi sesuatu beban bagi salah satu pihak. Pola ini diperberat jika tidak ada KOMUNIKASI yang baik antar keduanya. Keinginan, perasaan, pikiran dan mimpi yang tak sama akan memperberat proses sinkronisasi diantara 2 pihak yang berbeda. Hubungan yang tak sehat bisa dikenali jika 2 faktor di atas mulai berkurang ataupun menghilang di dalamnya. Jika ini terjadi maka lonceng untuk memikirkan kembali hubungan Anda sudah berbunyi.

Hubungan yang kurang sehat ini bermula dari konsep diri yang salah pada diri kita. Basic-nya adalah manusia merupakan sesuatu yang bersifat multi dimensi. Ada beberapa layer kesadaran yang ada sekaligus di dalam kita: kesadaran akan tubuh, emosi dan spiritual. Tubuh mempunyai keterbatasan yang sangat banyak: kita tak bisa lari secepat mobil, tak bisa terbang seperti burung dan tak bisa bernafas dalam air selama ikan. Dari ke-3 kesadaran tadi, bentuk badaniah merupakan wujud yang paling mempunyai keterbatasan.

Emosi, mempunyai keterbatasan yang lebih cair. Alunan lagu dapat membawa kita kembali ke sebuah peristiwa di masa lalu, sebuah wangi parfum mengingatkan pada seseorang yang kita kenal nun jauh di bagian dunia yang lain. Dalam hal ini, emosi dapat mengantar kita ke suatu kondisi melampaui batasan waktu dan jarak.  Tetapi emosi juga mempunyai pasang surut yang sangat dipengaruhi oleh keadaan psikis seseorang. Hati yang terbelah, terletak di point ini. Ia merupakan sesuatu kondisi atau gejala psikis yang disebabkan oleh sesuatu baik yang bersifat internal (emosi, pikiran, impian, hasrat, keinginan) dan eksternal (peristiwa) tertentu.

Solusinya, menurut saya terletak pada kesadaran spiritual. Secara spiritual, kita benar-benar terbebas dari batasan apa pun. Hanya cara menempuhnya dan mencapainya yang paling sukar. Keadaan ikhlas, bersyukur yang bersandar pada kecintaan kepada-Nya merupakan sesuatu yang sangat sulit dan mahal untuk didapatkan. Namun itu bukan berarti bahwa itu tidak mungkin dicapai. Melalui praktek puasa, do’a, shalat, dzikir dan semacamnya, hal ini dapat dicoba dan diusahakan.

Tetapi yang lebih esensial adalah kesadaran bahwa Anda adalah bagian dari-Nya. Anda adalah ciptaan yang istimewa dari-Nya. Dan bahwa apapun yang Anda inginkan akan terjadi bila Anda benar-benar meminta kepada-Nya. Disinilah harapan yang nyata timbul. Harapan yang bukan didasarkan pada kalkulasi manusia tapi lebih pada kepercayaan kepada-Nya. Pada dasarnya, Tuhan selalu beserta hamba-hamba-Nya. Tapi apakah kita selalu sadar bahwa kita berjalan, bernafas, menghadapi hidup, merasakan perih getir kehidupan ini selalu dengan-Nya? Ataukah kita selalu berpikir bahwa penderitaan ini adalah milikku, bahwa kesedihan ini adalah milikku yang tak mungkin dipahami dan dihadapi oleh orang lain atau malah oleh Tuhan sekalipun? Bukankah Ia lebih dekat padamu daripada urat leher-mu sendiri? Ia tahu penderitaanmu lebih dari dirimu sendiri. Ia lebih tahu solusi yang tepat dari pada dirimu dan kapan waktu yang terbaik untuk memberikannya. Kita akan tahu solusi yang harus kita jalankan dan ingatlah bahwa: “Aku akan ada di jalan manapun yang kau pilih”. Dan ini adalah kebebasan yang diberikan-Nya kepada Anda.

Karena itu harapan, wajib untuk dihidupkan. Tanpanya, kita akan ambruk tanpa pernah mencoba. Ingat juga bahwa pada saat kelamnya malam menghadang, berbaliklah pada dirimu yang terdalam karena di sana ada sebuah cahaya yang dititipkan-Nya padamu.

Semoga ini bisa membantu….

image taken from: http://www.pkwallpapers.com/

Iklan

2 thoughts on “HATI YANG TERBELAH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s