EMOSI: APA ITU?

Seperti sesuatu yang akan runtuh. Luluh. Namun masih mencoba bertahan. Tapi mungkin sebentar lagi….

Aiya tidak pernah memikirkan sakit itu akan datang lagi padanya. Sebuah sakit yang pernah mengakrabinya. Sakit yang datang kembali saat ia menatap nanar layar laptop di depannya. Layar itu masih kosong. Putih. Sementara waktu yang berjalan di kepalanya mulai menusuknya dengan kesadaran bahwa dateline semakin mendekat.

Mengapa ia bisa bertemu lagi dengan Angga di malam itu? Dan siapa wanita yang dipeluknya dengan hangat dibawah payungnya? Mengapa hujan yang biasanya memberitakan hal-hal yang gembira berubah menjadi begitu mengerikan?

Ingatan menghablur di dalam kegelapan malam. Kelelahan memeluknya. Waktu bergerak mundur ke dalam detik-detik saat ia bertemu dengan Angga-nya. Dahulu. Kenapa membelok ke sana? Apa yang salah? Dan ribuan pertanyaan yang tiba-tiba menghambur ke dalam benaknya. Ribuan bytes impuls memori yang seharusnya sudah ter-delete dalam recycling bean di otaknya.

Emosi adalah titik saat kesadaranmu bersentuhan dengan tubuh. Kesadaran itu terbingkai dalam sesuatu yang bernama persepsi. Karenanya saat kita mempersepsikan adanya bahaya, secara otomotis jantung kita berdetak lebih cepat. Jika kita mempersepsikan persoalan pelik yang menyebabkan stress maka perut kita menjadi sakit, kepala menjadi cenat-cenut dan sebagainya. Sesuatu yang mengharukan datang maka airmata pun menetes dan saat kebahagiaan muncul langkah dan pikiran terasa ringan dan seterusnya.

Emosi menyebabkan tubuh bereaksi. Tapi emosi juga menerima stimuli dari eksternal tubuh. Karena lingkungan dan situasi kita berubah-ubah maka emosi menjadi sesuatu yang tidak stabil. Saat bangun tadi kita merasa sangat senang tapi ketika kita berdesak-desakan di angkot, emosi kita mendadak meninggi. Karena faktor instabilitas ini maka kebanyakan dari kita tidak memfungsikan emosi saat menentukan sebuah keputusan. Kita biasanya menempatkan rasionalitas di atas sisi emosional.

Kita bereaksi biasanya dalam skala yang berada diantara 2 titik ekstrim: emosional ataupun rasional maksimum. Diantara ke-2nya ada ragam varian titik temu antar emosi dan rasionalitas kita. Terkadang sisi emosi kita lebih mendominasi, di saat yang lain sisi rasional-lah yang lebih berperan.

Karena mempunyai tautan yang rumit namun dekat dengan tubuh, emosi mempunyai pengaruh terhadap berbagai penyakit yang ada di tubuh kita. Stress sering menimbulkan penyakit migrain, gugup dan takut berpengaruh pada pencernaan (terutam maag) dan sebagainya. Emosi yang baik serta pikiran yang positif – menurut beberapa penelitian – mempunyai pengaruh yang cukup signifikan dengan tingkat kesehatan tubuh.

Selain itu, pikiran dan emosi yang penuh cinta akan menimbulkan sebuah medan elektomagnetik yang kuat dari tubuh kita. Medan elektromagnetik itu berubah saat kita mempunyai emosi positif. Menurut penelitian, hal yang sama akan terjadi saat Anda mempunyai emosi yang negatif. (coba lihat di: http://www.youtube.com/watch?v=1XqPhoRKPWw).

Emosi menjadi penghubung antara kesadaran (rasionalitas) dan tubuh. Ketika hubungan itu memburuk maka terjadi disfungsi baik di tubuh maupun emosi. Disfungsi emosional bisa menyebabkan penyakit neurotik. Tubuh yang lelah, aus dan tak terjaga juga akan menyebabkan emosi yang tak karuan dan mengurangi fokus pikiran pemiliknya. Karenanya bukankah lebih baik jika kita memelihara dan mengembangkan berbagai emosi positif hingga rasionalitas dan tubuh kita bertambah kuat dan sehat?

Berikut saya petik pendapat dari buku “The Healing and Discovering the Power of the Water” by Dr. Masaru jepang

5 menit MARAH, imun sistem tubuh kita depressi 6 jam.

Dendam, menyimpan kepahitan, imun tubuh kita mati. Disitulah bermula awal segala penyakit. STRESS, Kolesterol tinggi, pemicu Darah Tinggi, Jantung, rhematik, arthritis, Stroke (perdarahan/penyumbatan pembuluh darah).

Jika kita sering membiarkan diri kita STRESS, maka kita sering mengalami GANGGUAN PENCERNAAN.

Jika kita sering merasa KHAWATIR, maka kita mudah terkena penyakit NYERI PUNGGUNG.

Jika MUDAH TERSINGGUNG, maka kita akan cenderung terkena penyakit INSOMNIA (susah tidur).

Jika sering mengalami KEBINGUNGAN, maka kita akan terkena GANGGUAN TULANG BELAKANG BAGIAN BAWAH.

Jika sering membiarkan diri kita merasa TAKUT yang BERLEBIHAN, maka kita akan mudah trkena penyakit GINJAL.

Jika suka ber-NEGATIVE THINKING, maka kita akan mudah terkena DYSPEPSIA (penyakit sulit mencerna).

Jika kita mudah EMOSI dan cendrung PEMARAH, maka kita bisa rentan terhadap penyakit HEPATITIS.

Jika kita sering merasa APATIS (tidak pernah peduli) terhadap lingkungan, maka kita akan berpotensi mengalami PENURUNAN KEKEBALAN TUBUH.

Jika sering MENGANGGAP SEPELE smua persoalan, maka hal ini bisa mengakibatkan penyakit DIABETES.

Jika kita sering merasa KESEPIAN, maka kita bisa terkena penyakit DEMENSIA SENELIS (memori dan kontrol fungsi tubuh berkurang).

Jika sering BERSEDIH dan merasa selalu RENDAH DIRI, maka kita bisa terkena penyakit
LEUKEMIA (kanker darah putih).

Mari kita selalu BERSYUKUR atas segala perkara yang telah terjadi,karena dg bersyukur, maka “hati” ini menjadi BERGEMBIRA dan menimbulkan ENERGI POSITIF dalam tubuh utk mengusir segala penyakit-penyakit tersebut diatas.

Image taken from google image

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s