RAMADHAN DAN KEBERJARAKAN

 

Sebuah daun luruh. Dengan pelan, ia melayang dari atas pepohonan. Saya yang sedang berbaring dibawahnya, melihatnya sedikit ngungun. Betapa tak berdayanya ia dibawa oleh hembusan angin. Betapa rapuh. Betapa sederhananya.

Andai kita bisa sesederhana dan sepasrah daun itu….

Apa hikmah yang bisa diberikan oleh sepotong daun? Apa yang ingin dijelaskan darinya dengan keluruhan dirinya di hadapanmu?

Luruhan daun mengingatkan saya akan 2 aspek dalam hidup: kesementaraan dan keabadian. Dalam kesementaraan, kita adalah tubuh yang dapat tumbuh, matang, layu dan rapuh. Dalam keterbatasan tubuh, kita senantiasa dikekang oleh beragam keterbatasan baik secara fisik,, waktu dan ruang.

Tapi di dalam keabadian, maka kita mempunyai sisi ruhani. Ruh yang merupakan hembusan dari Ar-Rahman. Ruh yang abadi dan tak kan tersentuh oleh kematian. Ruh yang merupakan milik sejati dari  Yang Maha Hidup.

Lalu marilah kita melihat bahwa keabadian membutuhkan kesementaraan dan begitu juga sebaliknya. Dalam tubuh, ruh mendapatkan wadah untuk hidup di dunia ini: ia menjadi mampu bergerak, makan-minum dan berketurunan. Sebaliknya, tubuh tanpa ruhani adalah sesuatu yang kosong, ada namun tanpa isi. Tubuh membutuhkan ruh untuk membimbingnya mengarungi dunia yang penuh dengan kesalahpahaman ini.

Namun seringkali kita salah memaknai tubuh dan dunia ini sebagai satu-satunya identitas diri. Padahal identitas otentik kita bukanlah sekedar itu. Kita adalah ruh yang dibungkus oleh tubuh. Dan karena ruh adalah sesuatu yang berasal dari-Nya, maka kebutuhan esensialnya adalah keterhubungan dengan Sang Sumber. Dari sinilah sumber kerinduan kita yang hakiki muncul. Kita ingin selalu berada dalam lindungan, bimbingan, cahaya dan Cinta-Nya. Tetapi dalam dunia dan kondisi modern saat ini, sungguh sulit untuk mendapatkan waktu dan tempat dimana kita bisa benar-benar merasakan kedekatan seperti itu. Di sinilah kemudian Ramadhan hadir dan memberikan solusinya.

Ramadhan identik dengan kata shaum (yang artinya: menahan). Dalam ibadah shaum, kita diajarkan untuk menahan diri untuk tidak melampaui batas. Arti lainnya adalah bahwa kita memberikan sebuah jarak yang sesuai antara kita dengan dunia dan dengan diri kita sendiri sendiri. Dengan kata lain, didalam ibadah puasa di bulan Ramadhan, tiap manusia diberikan kesempatan dan cara untuk memberi jarak dengan nafs-nya.

Seorang muslim yang baik adalah manusia yang mampu memberi jarak yang benar antara dirinya dengan Tuhan, dunia, manusia lainnya dan sebagainya. Keberjarakan mengandung nilai bahwa kita mampu menilai seberapa berharganya hubungan itu dan kemampuan menempatkan posisi kita dalam pola tersebut. Hal ini menimbulkan adanya pengetahuan tentang adab . Adab adalah tata cara yang menyelimuti seluruh hubungan antara kita dengan segala hal tersebut. Dengan pemahaman yang baik akan adab, maka keseluruhan dimensi tadi menjadi terintegrasi dengan baik dalam kehidupan seorang manusia.

Ada bermacam masalah yang bisa timbul saat seseorang hanya bisa mengidentifikasi dirinya dengan barang-barang, status, jabatan dan hubungan yang dimilikinya. Ia menjadi buta oleh realitas lain yang lebih dalam daripada itu. Dan manusia akan selamanya berada dalam kedangkalan seperti itu jika saja kita tidak dibimbing oleh sosok-sosok terpilih dalam sejarah dunia  ini. Tradisi kita, Islam memberikan contoh Rasulullah SAW sebagai salah satu dari figur tersebut. Di dalam dirinya, ada keseimbangan yang begitu indah dari berkelindannya kesadaran tubuh dan ruhani.

Ratusan daun akan jatuh luruh dan berguguran. Tapi saya harap Anda bisa melihat Angin yang berhembus dan mengarahkannya. Ia berbisik: Cinta, Cinta…..

 

Don’t give your heart to anything

But the love of those whose hearts are glad.

Don’t go to the neighberhood of despair: there is hope.

Don’t go in the direction of darkness: sun exist.

Mathnawi I, 717-726

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s