CATATAN DI SEPOTONG SENJA…

Apa sih yang kamu lihat di senja itu? Aku tak pernah benar-benar mengerti alasanmu begitu mencintainya. Setiap kali senja datang, perempuan itu akan berhenti menyeruput lemon ice-nya. Lalu ia akan mengarahkan pandangannya ke senja itu.

Ia hapal sekali kebiasaan perempuan itu. Seperti juga kebiasaannya untuk memilih tempat duduk yang bersebelahan dengan kaca-kaca ini. Awalnya ia merasa aneh juga. Tapi ia cepat mengerti. Hanya dari sini sang perempuan tadi bisa melihat senja yang datang di sela-sela gedung perkantoran ini. Senja yang lembut dan misterius. Sebagaimana juga perempuan itu.

Selalu hadir di cafe ini di jam-jam tertentu. Memilih tempat duduk yang sama. Lalu memesan makanan serta minuman kecil. Sibuk dengan tablet di hadapannya. Dan di sela bayang orang yang berganti-ganti, ia tetap di sana. Melepaskan diri dalam kesendiriannya. Terlepas dalam dunianya sendiri.

Lalu takala senja datang. Ia akan berhenti menatap layar tablet di hadapannya. Matanya akan menatap senja di luar kaca ini. Lalu, perlahan ia akan “meleleh dalam waktu”. Perlahan, namun pasti. Hingga akhirnya senja hilang. Dan malam datang menggantikannya. Seutuhnya…

Sumber foto dari sini

lady waiting

Iklan

EMOSI: APA ITU?

Seperti sesuatu yang akan runtuh. Luluh. Namun masih mencoba bertahan. Tapi mungkin sebentar lagi….

Aiya tidak pernah memikirkan sakit itu akan datang lagi padanya. Sebuah sakit yang pernah mengakrabinya. Sakit yang datang kembali saat ia menatap nanar layar laptop di depannya. Layar itu masih kosong. Putih. Sementara waktu yang berjalan di kepalanya mulai menusuknya dengan kesadaran bahwa dateline semakin mendekat.

Mengapa ia bisa bertemu lagi dengan Angga di malam itu? Dan siapa wanita yang dipeluknya dengan hangat dibawah payungnya? Mengapa hujan yang biasanya memberitakan hal-hal yang gembira berubah menjadi begitu mengerikan?

Ingatan menghablur di dalam kegelapan malam. Kelelahan memeluknya. Waktu bergerak mundur ke dalam detik-detik saat ia bertemu dengan Angga-nya. Dahulu. Kenapa membelok ke sana? Apa yang salah? Dan ribuan pertanyaan yang tiba-tiba menghambur ke dalam benaknya. Ribuan bytes impuls memori yang seharusnya sudah ter-delete dalam recycling bean di otaknya.

Emosi adalah titik saat kesadaranmu bersentuhan dengan tubuh. Kesadaran itu terbingkai dalam sesuatu yang bernama persepsi. Karenanya saat kita mempersepsikan adanya bahaya, secara otomotis jantung kita berdetak lebih cepat. Jika kita mempersepsikan persoalan pelik yang menyebabkan stress maka perut kita menjadi sakit, kepala menjadi cenat-cenut dan sebagainya. Sesuatu yang mengharukan datang maka airmata pun menetes dan saat kebahagiaan muncul langkah dan pikiran terasa ringan dan seterusnya.

Baca lebih lanjut

I hate saying goodbye…


Senja telah datang mendekap.

Dan di pinggir kereta api itu, sekeping kisah perpisahan terjadi.

Perempuan itu (berusaha) tersenyum.

“Selamat tinggal”, ujarnya sambil mengangsurkan tangannya kepada saya.

Saya masih bingung, tertegun sambil ragu melihat uluran tangannya itu.

“Ayo….”, ujarnya mendesak.

Peluit kereta melengking tinggi di belakang. Sang kondektur mulai agak melotot melihat kita, sambil nyeletuk: “Halah, mas. Please deh, jangan lebay….”.

….

Saya tidak terlalu suka menguncapkan “Selamat tinggal”. Bagi saya, kata-kata itu begitu final. Daripada mengucapkannya, saya lebih suka mengatakan “Sampai jumpa lagi” yang lebih bermakna harapan untuk kembali berjumpa di waktu yang lain.

Saya juga (tadinya) tidak terlalu suka perpisahan. Perpisahan merupakan paradoks dari perjumpaan yang seringkali saya persepsikan sebagai sebuah pengalaman yang mendebarkan, menyenangkan dan sangat berharga. Mengapa harus ada perpisahan yang mengakhirinya? Apalagi jika pertemuan itu dengan orang yang sungguh-sungguh berharga buat saya. Rasanya ……urggggghhhhhh banget.

Mungkin saya termasuk orang-orang yang terlalu melodramatic dalam hal ini. Pengalaman dalam hidup saya mengajarkan bahwa terlalu banyak hal-hal baik yang datang pada saya hanya untuk sementara dan kemudian pergi tanpa pernah kembali. Jadinya, saya tumbuh menjadi orang yang rada-rada sinis dengan kebahagiaan. Buat apa kita terlalu seneng, toh seneng itu ada akhirnya? Buat apa bahagia, toh nanti Anda mati dan nggak bisa ngerasainnya lagi? Hahaha…

Baca lebih lanjut

Prita…

complaint

Sekarang kalau membuka facebook, saya dihujani dengan ajakan untuk ikut cause yang berjudul bebaskan ibu Prita. “Ya ampyun…..ada lagi yang ngajak aku? Hrrgggh….”

Siapa sih yang nggak tahu kasus Prita saat ini? Mungkin hanya orang-orang yang puasa baca koran dan tv aja yang nggak tahu. Polemik, perbincangan hingga diskusi di berbagai media merupakan media yang mem-blow-up kasus ini hingga jenuh.

Tapi saya lalu bertanya dalam hati: Siapa sih yang nggak pernah salah di dunia ini? Semua orang pasti punya salah, karena memang manusia tempatnya salah. Nggak terkecuali sebuah rumah sakit yang bernama RS Internasional Omni di wilayah Tangerang tersebut. Jadi sebenarnya, kesalahan adalah sesuatu yang wajar banget. Manusiawi bahkan.

Tapi semestinya, sebagai sebuah institusi yang menawarkan jasa kesehatan, hendaknya Omni punya sistem yang merespon complaint apapun dengan cara yang luwes dan elegan. Enggak lucu ah, kalau seorang konsumen yang ingin mengajukan keluhan tentang sesuatu malah dikenakan saksi menginap di sel selama 3 minggu. Ih, enggak banget deh….hahaha..

Seharusnya kalau ada sebuah sistem yang apik, complaint dari seorang konsumen dapat dilihat sebagai hal yang positif. Dengan adanya complaint yang baik, maka institusi yang menawarkan jasa mempunyai kesempatan untuk lebih meningkatkan kualitas dirinya.

Selain itu, adanya complaint, jika ditanggapi dengan baik akan lebih mengikat hati konsumen terhadap sebuah produk. Contohlah MacDonald yang tidak membuat burger dengan daging sapi di India, karena disana sapi dianggap suci.

Kepekaan terhadap pelanggan, adalah kunci bagi kesuksesan usaha di segala bidang. Lagipula harap diingat bahwa ” to eer is human, to forgive is divine”. Salah itu manusiawi, memaafkan itu ilahi. Selamat mengelola complaint!..

Foto: by thespeedphreak @flickr

Tren Musik Melayu Saat Ini

Tren Melayu di belantika music Indonesia mengundang polemik. Hal ini terjadi seiring adanya komentar dari beberapa musisi tanah air yang mencap music jenis ini sebagai sebuah degradasi (penurunan mutu). Hal ini sampai menimbulkan kesan ‘perang dingin’ antara musisi yang –terus terang – membuat saya suka senyum-senyum sendiri. Sebegitu immature-nya kah musisi kita?
Menurut WIKI, perkembangan music Melayu di Indonesia telah mulai sejak lama. Dahulu, kita mengenal adanya music Orkes Melayu yang masih menggunakan gitar akustik, akordeon, rebana, gambus dan suling sebagai instrument utamanya. Pada periode 50 dan 60-an, orkes-orkes Melayu di Jakarta ini memainkan lagu-lagu Melayu Deli asal Sumatera (sekitar Medan). Perlahan, seiring perkembangannya, unsur India mulai juga masuk ke dalam music Melayu. Ellya Khadam dengan hits “Boneka India”-nya merupakan representasi dari gejala ini. Selain itu masih ada penyanyi lain seperti P.Ramlee (Malaysia), Said Effendi (dengan lagu Seroja) dan lainnya yang mempopulerkan genre music ini.
Tonggak perkembangan music Melayu (yang berkelindan dengan music dangdut) adalah dengan adanya Soneta Group, pimpinan Rhoma Irama di tahun 1970-an. Setelah itu, music Indonesia diwarnai oleh beragam genre yang merupakan unsur-unsur asing seperti Rock, Reggae, Heavy Metal hingga SKA dan Grundge (Alternative). Pada masa ini, musik Melayu memasuki periode hiatus alias mati suri. Hal ini terbukti dengan tidak banyaknya musisi baik solo maupun group yang mengusung genre Melayu. Di periode ini, lagu Melayu yang paling saya ingat adalah “Isabela” yang disuarakan grup Malaysia, SEARCH.
Namun sebagaimana jenis seni apapun (mo fashion, painting, dll), music juga mengalami proses recycle. Unsur-unsur Melayu yang pernah dinyatakan “mati”, usang dan nggak nyeni itu mulai ngetop lagi dengan adanya grup-grup seperti ST 12, Wali, Hijau Daun dan lainnya. Bahkan Soneta “reinkarnasi” kembali di sosok Ridho Roma.
Saya nggak bisa main music. Jangankan nyanyi, bersiul aja fales (hehe…). Tapi saya suka dengerin music (Indonesia ada di list atas lo!). Dan saya nggak suka kalau music terlalu dikotak-kotakkan. (Kotak kan nama band juga….loh, kok ngaco? ). Buat saya, lagu yang enak dan group atau musisi yang kreatif nan berbakat akan selalu punya pasarnya sendiri. Enggak usahlah kita sibuk membuat komentar yang nggak-nggak tentang orang lain. Kalau enggak suka dengan sesuatu, buktikan saja dengan kerja keras dan karya yang lebih bagus. Kayaknya itu lebih baik daripada bergunjing dan berkonflik dengan orang lain. Se7?….Yeah!.

You, me and the children (renungan di hari Ibu)

Ancol with the family

Ancol with the family

Kehadiranku di dunia adalah melaluimu. Dan melalui diriku, anak-anakku hadir, lepas dan berlari di padang luas kehidupan ini.

Remembering you ignites a flow of gratitude. I am honored to be your son. And how I cannot enumerate words of thankfulness that match everything that you had given to me. I am grateful that through you, I exist. And that I came from a long series of people that are beautiful. My mother, my mother’s mother, my great great grandmother, my ancestors. In me, there is a place where I collect some part of you all.

And when I look at my children: how amazing Life is! When I see them, I sense the generation that will come to this world through them: my grand children, my great grand children, etc. Now, everything I build, touch and give to them will be pass on to generations and generations…

Terimakasih Tuhan karena telah menjadikanku sebuah dot dalam garis panjang kemanusiaan ini. Selamat hari Ibu semuanya!

Catatan akhir tentang industri kreatif

Sudah saatnya memberi sedikit catatan akhir tahun pada industri kreatif. Sesuatu yang menggeliat dan menjadi primadona (saya kira) untuk tahun ini dan tahun-tahun berikutnya.
Industri kreatif adalah :

“Industri yang berasal dari pemanfaatan kreatifitas, ketrampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu tersebut “(Sumber : http://industrikreatif-depdag.blogspot.com/)

Sebagai sebuah industri, kreativitas masih memerlukan ‘tangan-tangan’ yang dapat menyuburkannya. Institusi pendidikan, Pemerintah, perbankan maupun pihak-pihak lain. Sebagai sebuah ’embrio’ ia telah mulai berkembang walaupun masih tumbuh ditanah yang ‘keras dan dingin’. Ini tentu saja patut disayangkan, jika kita melihat sumbangan dari sektor ini.

Sebagai ilustrasi, menurut hasil survei dari Departemen Perdagangan RI 2007, sektor ini telah menyumbang 6,3 % dari PDB. Dalam hal penyerapan kerja, ia memiliki kekuatan untuk menyerap 5 juta tenaga kerja per tahun. Ini baru dalam tingkatan nasional. Di level kota (Bandung), omzet dari industri distro per bulan adalah 25 M dengan total penyerapan tenaga kerja sebesar 30 ribu orang per tahun. Ini (menurut saya) sangat potensial. Sayangnya infrastruktur, regulasi dan perlindungan ketanaga kerjaan masih menjadi masalah. Ini tentu perlu mendapat perhatian agar ia dapat berkembang.

Nah, apakah kita sebagai pendidik, orangtua ataupun masyarakat telah beradaptasi untuk ‘menyambut’ gelombang industri kreatif ini?

Enaknya jualan ide

11_12_52-electric-light-bulb_web

Tulisan ini merupakan cuplikan dari buku “Jualan Ide Segar” karya mas Arief. (Tentu saja ini versi yang sudah saya modifikasi…hehehe) :

1. Enggak perlu paham fisika, kimia, matematika.

2. Enggak perlu modal besar. Bukan berarti enggak perlu modal, tapi modal-nya tipe hemat (1 komputer, 1 scanner, 1 printer dan 1 kompresor).

3. Bahan bakunya gratis dan nggak mungkin habis. Lah, siapa yang mo ngehabisin ide? Ide itu kan sesuatu yang abstrak dan bisa diproduksi dimana saja (di jalan, di kamar mandi, pas Anda lagi jongkok, etc-lah).

4. Nggak tergantung tempat. Mo ngerjain design di parkiran, sambil makan-makan bareng temen, di rumah, di tempat cuci mobil…mangga! Yang penting, output-nya sesuai dengan brief dan tentu saja TOP!

5. Nggak terlalu formal. Anda boleh kerja pake sarung, nggak juga nggak papa! Nggak perlu pake dasi, celana bahan dan sepatu pantofel teruss…..(silahkan bertato, body piercing, etc)…yang penting idenya fresh dan keren!

6. Keutungan jualan bisa mencapai 41.777,8%. Beli aja CD harga 4500 perak lalu diisi software dan dikasih label yang menjual, kemudian tawarkan ke client. CD itu bisa dihargai 188 juta rupiah. Mau? Yuk…

7. Jualan sama, harga semaunya. Bikin desain logo 1 : proses kreatifnya sama, cara design-nya sama, software yang dipake sama. Tapi yang satu bisa dijual harga 100 ribu, yang satunya bisa dijual ke client seharga tiga juta…alah…

8. Beramal. Bikin dekor pengajian, bikin parsel lebaran, kan jadi amal. Nggak perlu nunggu kaya supaya bisa jadi dermawan.

Sekian…. Ada lagi yang mo nambahin?

Menghitung Hari…

Saya melewatkan beberapa hal di kurun waktu lalu: kemenangan Obama, kematian Amrozi, Pesta Blogger, rencana penurunan harga BBM, dll. Blog-pun rada terbengkelai. Maaf dan mohon maklum, ada UTS mahasiswa di depan mata.

Kini…saya sedang menghitung hari. Tahun 2008 akan segera berakhir. Dan saya sedang tiwikrama mode. Waktunya untuk menyendiri, menyepi di tengah keramaian. Berusaha untuk mencerna segala yang telah terjadi sepanjang tahun ini, lalu perlahan membuat rencana untuk tahun depan. Menata optimisme bahwa tahun depan akan lebih baik dari tahun ini.

Kemarin saya sudah membuat presentasi singkat mengenai rencana saya ke depan. Alhamdulillah, presentasi berjalan dengan baik. Saya harap dukungan terhadap program-program yang ada mewujud nyata. Ada optimisme yang besar dan keyakinan bahwa tahun depan akan berjalan lebih baik dari tahun ini. Tapi saya harus realistik bahwa kemungkinan gagal itu juga selalu membayangi.

Saya pernah gagal. Sering malah. Tapi saya harap semua itu membuat saya menjadi pribadi yang lebih baik. Lebih tabah dan sabar menghadapi segalanya. Saya hanya berkewajiban berusaha. Output dari usaha itu bukan terletak di tangan saya.

Inilah aku :

Bermain-main sambil tertawa

Antara sedih dan gembira

Di dalam rahim kehidupan…

Tanggung jawab seorang blogger

Diluar sana: terlalu banyak suara-suara yang sibuk mendiskusikan pilkada. Maka ijinkanlah saya untuk TIDAK menulis tentang hal-hal itu. Isyu-isyu itu terlalu “melelahkan” buat saya…

Alih-alih saya ingin menyuarakan sesuatu yang -mungkin- sedikit terlupakan oleh teman-teman blogger. Hmmm, saya hanya ingin memberikan sedikit saran yah….boleh? (boleh dong, ya?).

Ada titik kritis yang harus dilewati oleh seorang blogger pada saat menulis. Critical point di sini adalah saat-saat sebelum ia menyentuh/meng-klik tombol publish yang terletak di layar. Sesaat, sebelum ia mempublikasikan postingannya, ia (dalam bayangan saya) akan membaca ulang sekali lagi tulisannya. Mengecek kembali data-data dan validitas dari sumber-sumber yang ia kutip. Memperhatikan apakah tulisannya sudah cukup baik, layak ditampilkan dan tersebar di seluruh dunia (via internet).

Dengan kata lain, ada proses internalisasi yang cukup untuk berkaca dan bertanya: “Apakah yang sebetulnya ingin saya sampaikan pada dunia?”. Dalam hal ini, Anda harus mengingat bahwa Anda akan menuai apa yang Anda semai. Maksudnya, kalau hal-hal negatif yang Anda ingin Anda “muntahkan” di blog Anda, ada kemungkinan akan ada reaksi negatif yang akan menghampiri. Dan begitu juga sebaliknya (saya juga pengagum buku the Secret sih…).

Blog adalah sebuah medium pribadi. Ia adalah citra diri Anda di dunia maya. Dan sangat manusiawi, kalau Anda terkadang mengekspresikan kemarahan, kegelisahan dan kesedihan Anda disana. Tapi sebaiknya, hal ini dilakukan dengan cara yang tidak menyinggung orang lain (mungkin saya terlalu sopan yah?). Paling tidak, ada sebuah sikap kedewasaan yang bisa diekspresikan dalam penulisannya.

Entahlah, saya mungkin berpendapat bahwa menulis bukan hanya untuk menulis. Itu untuk sesama. Karena hidup lebih nikmat jika dijalani dalam kebersamaan dan bukan kesendirian…

Mungkin jika nanti ada pelatihan tentang blog, mungkin hal ini bisa menjadi hal penting yang harus diperhatikan.