Waiting for You…

alone

Di dalam palung hatiku,

Di sanalah kamu berlabuh.

Entah untuk yang keberapa kalinya.

Kalimat-kalimat telah kutenun

Seiring waktu

Tapi bias matamu

Serasa memburaikannya

Satu per satu.

Kaki langit masih jauh

Entah untuk kutatap sendiri.

Tapi kau selalu mengalunkan nada nada

Dalam takzim sepi.

Iklan

DIA…..

“Ia tak pernah terlalu besar hingga mengalihkanku dari tujuan hidupku. Ia juga tak pernahterlalu kecil hingga bisa begitu saja kuremehkan. Ia cukup. Cukup untuk hidup dan cintaku”.

–          Terimakasih ya Rabb, atas semua yang telah, akan dan selalu Kau berikan

holding hands

Provoke your mind: Mesjid Dijual di Subang

Spanduk itu berdiri di depan mesjid Ash-Shidiq, Subang. Ia menghadap ke depan, menyapa para warga yang melintasi jalan Otista. Isinya sederhana, tapi menggemparkan: “Mesjid ini dijual: Rp 1,5 juta/m2.”. Anda mungkin langsung bertanya: “Memangnya ada mesjid yang dijual?”….

Ternyata ini hanya sebuah kalimat provokasi untuk memancing orang bertanya. Sebenarnya, ia hanyalah strategi  dari para pengurus mesjid tersebut untuk menarik perhatian donatur dalam pembangunannya. Kasus yang sama juga telah terjadi di Batu, Malang. Beritanya tentang mesjid Ash-Shidiq juga bisa dibaca secara lebih detail disini (foto-nya juga saya ambil dari sini loh).

 

Untitled

Sebagai sebuah sarana penyampain pesan, spanduk tadi sederhana adanya. Tapi kata-kata yang ada dapat menyebabkan “keguncangan” kultural dalam benak kita. Ini membuktikan satu hal: kata-kata memang bisa lebih bisa memprovokasi orang daripada senjata”.

2012 in review

Seiring berlalunya waktu, kita akhirnya tiba di penghujung tahun 2012. Begitu banyak yang telah terjadi selama tahun ini dan begitu sedikit yang telah tertuang dalam blog ini. Mohon maaf jika ada salah-salah kata dari saya. Terimakasih atas kunjungannya. Viva la blog! I’m going to write again soon…

Ps: ini ada beberapa catatan akhir tahun yang telah dirangkum oleh tim wordpress tentang blog ini. If you want to see them, feel free to do so. Enjoy!…

Baca lebih lanjut

THANK GOD FOR FAMILY…

I’m writing this with a soft sun ray knocking on my window. The azure sky mix with the soft wind. There is a scent of flower blooming everywhere. A rustle on trees bring music to our ears. 

These are times of blessing. There are moments of sacredness. And joy. And happiness, that shun in every corner. 

Our family just had a wonderful times during the Ied holiday. We spend it on parks around Jakarta. Those days were great as we travel around the city that had gone more quieter than normal. Most of the inhabitants were gone outside the city in the annual rite called mudik.  It’s a ritual where most of the Jakarta’s people went back to their home town. They were escaping the city where they had shed bloods, sweats and tears.

The city is quite empty, it feels weird to drive around  and see the streets with minimum cars in it.

Anyway, I feel joyful to watch the children (mine and my brother) played in the Suropati Park. They played with the doves that went flying around the park. We had a great time there.

By the way, Suropati Park is located in Menteng area, Jakarta. The park is filled with sculptures made by Asian’s artists. The park was build by the Dutch. On those days, the name was  Burgermeester Bisschopplein. Its present-day look has preserved much of the original design. Circular in shape, it’s 16,322 sq m in area.

RAMADHAN DAN KEBERJARAKAN

 

Sebuah daun luruh. Dengan pelan, ia melayang dari atas pepohonan. Saya yang sedang berbaring dibawahnya, melihatnya sedikit ngungun. Betapa tak berdayanya ia dibawa oleh hembusan angin. Betapa rapuh. Betapa sederhananya.

Andai kita bisa sesederhana dan sepasrah daun itu….

Apa hikmah yang bisa diberikan oleh sepotong daun? Apa yang ingin dijelaskan darinya dengan keluruhan dirinya di hadapanmu?

Baca lebih lanjut

In Memorian : Adam Dupre

“People come and walk out from our life for a Reason. Reason that not always clear at the beginning. But the Real reason of every encounters, events and interactions in our life is to know and experience Love. Meeting Adam is a fine exemplar of it”.

Terkadang Kehidupan mempertemukan kita dengan orang-orang yang akan mengubah hidup kita. Mereka datang untuk menyentuh dan membawa pesan untuk hati terdalam kita. Adam merupakan sedikit dari orang-orang itu. Saya mengenal Adam sebagai facilitator dalam acara Beshara 9 Days Course di Jakarta, sekitar tahun 2004 (kalau tidak salah). Dalam kenangan saya, ia adalah sosok yang lembut, bersahaja dan sangat perhatian pada ‘murid-murid’-nya. Dan melalui Beshara, rasa perhatian dan kasih ini semakin berkembang. Ia datang beberapa kali untuk hal itu, terutama untuk memfasilitasi the weekend course kami.

Setelah pertemuan di course tersebut, saya tidak begitu sering bertemu dengannya. Kabar mengenainya hanya saya dapat dari ibu dan beberapa teman saya. Perpindahan saya ke Subang, merupakan salah satu alasan mengapa saya jarang bertemu dengannya.Hingga akhirnya saya diminta oleh Ibu untuk bertemu dengan teman-teman dan berdoa untuknya. Pertemuan kecil kami di rumah Inez itu hanya didatangi oleh Felia, Arida, Om Bas, Inez, Irma, Meutia, Yanti, ibu Itje dan saya. Dengan jumlah yang sedikit, kami dapat lebih guyup dan fokus pada apa yang ingin kami lakukan. Acara kami buka dengan meditasi, lalu membaca sebuah poem dari Rumi dan akhirnya berdoa.Berdoa untuk Adam yang ternyata menderita kanker.

Beragam kesan dan hikmah pasti dapat diambil dari acara ini. Bagi saya, Adam adalah sosok yang menyadarkan saya bahwa kita seharusnya “memeluk” ketiadaan diri kita dihadapan-Nya dengan terhormat (dignified). Kondisi non-existance bukanlah sesuatu yang menakutkan dan harus dihindari. Adam merupakan wujud nyata dari hal itu.

Dunia tidak lagi menyimpan wadah yang bernama Adam. Tetapi hati dan kenangan kami akan selalu bersamanya….

Photo taken from Google.

 

AN END FOR A NEW BEGINNING

Image

 

Hujan. Dirinya hanya ditemani oleh rintik yang membuncah dan bau tanah yang basah. Ruangan ini tampak penuh dengan kursi dan meja yang kosong. Suara-suara mahasiswa yang riuh rendah itu telah hilang. Mereka telah berimigrasi, entah ke mana.  Tempat ini berubah menjadi begitu sepi. Sunyi.

Laki-laki itu menghela nafas.

“Hanya di air yang tenang, kamu bisa berkaca”. 

Dia mengingat peribahasa itu entah darimana, entah mengapa. Mungkin hujan telah membuatnya sedikit sentimentil. Entahlah. Tapi ia percaya bahwa hujan ini datang dengan membisikkan sebuah pesan baginya. Dan inilah pesan itu:

Hanya di air yang tenang, seseorang dapat berkaca. Bukan di air yang keruh. Bukan pula di air yang sedang menggemuruh. Dan itulah mungkin perlunya sebuah refleksi.

Refleksi seharusnya sesuatu yang rutin dilakukan. Dalam sebuah perusahaan, di setiap akhir program selalu ada waktu evaluasi. Disana kita merefleksikan proses yang telah dilalui sembari menyusun rencana untuk ke depan. Untuk mengadakan evaluasi, kita harus minimal mempunyai fokus dan keberjarakan. Dan keduanya adalah sesuatu yang agak susah dilakukan saat ini.

Saat ini, dimana tuntutan untuk bersosialisasi sedemikian besar dan mengikutimu kemanapun kamu pergi, kesendirian adalah hal yang mewah. Tuntutan itu menghimpitmu di jalan-jalan melalui beragam poster dan spanduk. Menginvasi ruang-ruang di rumahmu melalui gempuran acara dan iklan di televisi. Dan ia menyusup ke dalam gadget-gadget pribadimu, memintamu untuk sekedar mem-browsing, meng-klik likes, follow, comment, retweet dan lainnya.

Fokus juga berarti memisahkan yang penting dari hal lainnya. Dari yang esensial dengan remeh temeh. Dan bicara tentang hal yang pokok, inilah yang dilihatnya: setiap orang berada di sini dengan alasannya masing-masing. Untuk dirinya, keinginan terbesar untuk berada di sini adalah karena ia ingin belajar, ia ingin mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak diketahuinya. Mencoba dan mengapresesiasi sesuatu yang baru. Mungkin gambarannya sama seperti anak kecil yang melihat hal-hal di dunia ini untuk pertama kalinya. Mencoba melihatnya dalam pandangan kebaruan dan antusiasme yang penuh (dan mungkin juga naif dan kekanak-kanakan).

Di dalam proses itu, ia menemukan hal-hal baru: ilmu, lingkungan, pengalaman dan teman-teman baru.  Ia jadi tahu bagaimana rasanya bangun jam 4 pagi dan naik angkot jam 5 untuk sampai ke kampus jam 7an sebelum kuliah dimulai (gila, dinginnya…brrr). Ia jadi tahu rasanya jadi anak kost yang terpaksa kelayapan tengah malam cari makanan (viva la perut de laper!). Juga belajar memahami dan berteman dengan individu-individu yang punya karakter dan latar belakang yang berlain-lainan. Berteman, berkonflik, berdamai, berproses dan menemukan dirinya sendiri di akhir semua itu.

Dan ia bersyukur: hidup telah memberinya begitu banyak. Tidak semua hal yang didapatnya berasa manis, tapi itulah hidup -dengan segenap pasang dan surutnya-.

Kini sepenggal kebersamaan itu telah berakhir. Semester ini telah usai. Kini waktunya untuk “mencerna” semua yang telah didapatkannya selama ini. Dan bersiap untuk menghadapi sebentuk masa depan yang belum terdefinisikan di depannya. Mungkin sesuatu akan hilang tapi tidak berarti bahwa ia tidak mendapatkan apa-apa darinya.

Dan saat ini, hanya sebentuk taman kosong dan pohon-pohon kesepian-lah yang menemaninya. Daun-daun berguguran. Air-air masih menetes di ujung dedaunan. Warna-warna terasa menyurut dari tanah menuju langit. Begitu segar. Indah. Tapi sekaligus -entah mengapa- udara Bandung yang berhembus sehabis hujan ini terasa begitu menusuk di pori-pori kulitnya.

Laki-laki itu bersiap beranjak pulang.

Ia tersenyum. Udara terasa begitu dingin. Tapi dalam hatinya ia merasakan sebentuk kehangatan menyusup. Hangat. Begitu hangat….

 

Ps: Masbro and mbaksis, thank you for making my life complete.

Image taken from Google Image

 

 

 

Virus Bernama MindTalk

Perkenalan saya dengan MindTalk adalah sebuah kebetulan. Bermula dari sebuah email. Lalu bermula dari ketertarikan dan tindakan mengklik2 di depan komputer…dan voila! Saya sudah jadi salah seorang dari sekumpulan manusia yang disebut MindTalker. Weits…..mesti istilahnya (kelihatan) keren, tapi sebenarnya ini adalah sebutan bagi orang-orang yang sudah terjangkiti virus berbahaya bernama MindTalk tadi.

Lah, tapi MindTalk itu apaan? Sejenis virus, penyakit ataw apa?APA, APA, APA…JAWAB KAK!Waduh, jadi keingetan masa OSPEK nan indah dulu nih. (lho?)Tapi baiklah, saya akan mencoba pertanyaan setingkat metafisis tingkat tinggi ini. Atau paling tidak setingkat dengan algoritma tingkat ekstrem.

Baca lebih lanjut

BAHAGIA


“Aku ngerasa bahagia kalau bersama teman-teman di sampingku”.

“Aku ngerasa bahagia kalau aku nggak mikirin bahwa aku harus bahagia”.

“Aku ngerasa bahagia kalau aku sedang bekerja, membuat karya dengan tanganku ini”.

“Aku merasa bahagia kalau aku bisa menjadi solusi bagi dunia ini”.

Hujan baru saja selesai mengguyur kota Bandung malam itu. Di sebuah sudut dekat kampus Tamansari, kami –saya dan teman-teman – sedang bersantap malam.  Muka kami tampak agak kuyu mengingat beberapa hari ini kami diganjar tugas secara spartan dari dosen. Dan dibawah tenda yang menyediakan tempat berteduh, kami pun berusaha melepaskan lapar dan lelah itu.

Malam semakin larut. Dan tiba-tiba seseorang melontarkan pertanyaan itu: “Apa sih yang membuatmu bahagia?”. Maka malam pun berubah menjadi sebuah ajang membuka diri. Waktu melambat. Dan entahlah, kesemuanya menjadi begitu klop untuk saat itu: titik-titik hujan yang masih menetes di ujung tenda. Suara pengamen yang sedang bernyanyi sayup di kejauhan. Bau asap dari penggorengan sang pedagang.  Makanan, minuman serta suasana yang menghangatkan.

Baca lebih lanjut