Virus Bernama MindTalk

Perkenalan saya dengan MindTalk adalah sebuah kebetulan. Bermula dari sebuah email. Lalu bermula dari ketertarikan dan tindakan mengklik2 di depan komputer…dan voila! Saya sudah jadi salah seorang dari sekumpulan manusia yang disebut MindTalker. Weits…..mesti istilahnya (kelihatan) keren, tapi sebenarnya ini adalah sebutan bagi orang-orang yang sudah terjangkiti virus berbahaya bernama MindTalk tadi.

Lah, tapi MindTalk itu apaan? Sejenis virus, penyakit ataw apa?APA, APA, APA…JAWAB KAK!Waduh, jadi keingetan masa OSPEK nan indah dulu nih. (lho?)Tapi baiklah, saya akan mencoba pertanyaan setingkat metafisis tingkat tinggi ini. Atau paling tidak setingkat dengan algoritma tingkat ekstrem.

Baca lebih lanjut

BAHAGIA


“Aku ngerasa bahagia kalau bersama teman-teman di sampingku”.

“Aku ngerasa bahagia kalau aku nggak mikirin bahwa aku harus bahagia”.

“Aku ngerasa bahagia kalau aku sedang bekerja, membuat karya dengan tanganku ini”.

“Aku merasa bahagia kalau aku bisa menjadi solusi bagi dunia ini”.

Hujan baru saja selesai mengguyur kota Bandung malam itu. Di sebuah sudut dekat kampus Tamansari, kami –saya dan teman-teman – sedang bersantap malam.  Muka kami tampak agak kuyu mengingat beberapa hari ini kami diganjar tugas secara spartan dari dosen. Dan dibawah tenda yang menyediakan tempat berteduh, kami pun berusaha melepaskan lapar dan lelah itu.

Malam semakin larut. Dan tiba-tiba seseorang melontarkan pertanyaan itu: “Apa sih yang membuatmu bahagia?”. Maka malam pun berubah menjadi sebuah ajang membuka diri. Waktu melambat. Dan entahlah, kesemuanya menjadi begitu klop untuk saat itu: titik-titik hujan yang masih menetes di ujung tenda. Suara pengamen yang sedang bernyanyi sayup di kejauhan. Bau asap dari penggorengan sang pedagang.  Makanan, minuman serta suasana yang menghangatkan.

Baca lebih lanjut

Menulis itu…

Seorang mahasiswa ngomong ke saya: “Pak, gimana sih supaya bisa nulis seperti Bapak?”

Well, menulis buat saya adalah sebuah aktivitas yang cukup mudah walau sulit. Mudah karena hanya tinggal mengungkap apa yang ada di kepala atau hati. Sulit karena terkadang diri kita sendiri jadi penghalangnya.

Menulis bagi saya adalah…


Merangkai kata-kata. Menyusuri padang luas ide-ide. Membuat sebuah rumah di salah satu sisi nya dan membungkusnya dengan imajinasi.

Menulis juga berarti…


Berusaha membaca buku-buku. Artikel. Kehidupan. Lalu berusaha menarik point-point penting darinya. Berusaha untuk terus menerus belajar. Dan mencoba untuk cukup rendah hati untuk mendengar dan melihat dari kacamata orang lain.

Akhirnya, menulis merupakan…

Sebuah perayaan atas kemenangan melawan kemalasan diri. Sebuah perayaan atas tekad untuk berbagi. Sekecil apapun kontribusi yang kita bisa lakukan melaluinya.

GROW OLD TOGETHER…

Kita akan jadi tua bersama….dan bukankah itu menenangkan?

Sama seperti opa oma yang tua dan masih bergandeng tangan di taman Suropati itu. Dengan rambut yang memutih dan kulit yang tak lagi kasat seperti sekarang.  Berdua, berbincang sambil menyender di kursi taman, memandang taman yang luas dengan pohon-pohon tua yang tumbuh rimbun dan besar di pinggirnya.

Kita akan jadi tua bersama…

Menikmati pagi dengan segelas teh panas. Lalu gorengan yang hangat di meja. Aku membaca koran minggu di kursi dan kau menonton tv di sofa. Si sulung sedang asyik ber-internet ria di kamar sementara kedua adiknya sedang ramai bermain bersama di luar.

Kita akan jadi tua bersama…

Menyusuri jalan di sela-sela gang di pagi hari. Atau malah bersepeda bersama. Kau memelihara beberapa ayam di halaman sedangkan aku memelihara ikan-ikan di akuarium. Berbelanja beberapa makanan di mini market terdekat. Lalu memasak sesuatu yang sederhana di waktu petang.

Kita akan jadi tua bersama…

Dan bukankah itu satu hal lagi yang perlu kita syukuri dari hidup ini?..

Image taken from http://www.wallcoo.net.

KERJA YANG PALING BAIK ITU….


“Pak, saya kira-kira cocok kerja jadi apa ya nantinya?”

Pertanyaan itu terucap dari mulut salah seorang mahasiswa saya yang sebentar lagi sidang sarjana. Kalimat itu membuat saya tertegun. Pertanyaan itu muncul, menurut saya, karena ketidaksiapan dirinya menghadapi masa depan. Masa depan memang sesuatu yang serba tidak pasti, misterius dan bahkan – menurut beberapa orang – menakutkan.

Masa depan adalah sesuatu yang tidak pasti, yang mengandung probabilitas besar dalam dirinya. Probabilitas ini mengandaikan berbagai variabel di dalamnya yang tak dapat diramalkan. Karenanya ia menjadi sesuatu yang misterius, sesuatu yang dekat tapi tak dapat diketahui, dipetakan dan dipastikan. Nah, bagi yang menuntut adanya kepastian dalam hidupnya, ketidakpastian ini pastilah sesuatu yang menakutkan. Takut karena kita merasa akan terdampar dalam ranah yang tak berpeta, yang tak dikenal dan tak berkawan.

Benarkah?

Baca lebih lanjut

HATI YANG TERBELAH

Kesedihan. Kemarahan. Sesuatu berubah. Dan itu menyakitkan kita.

Ada hal-hal yang menyebabkan kita merasakan hati kita terbelah, pecah dan terserak. Kehilangan seseorang yang dekat dengan kita adalah salah satunya. Merasakan sesuatu yang berubah pada pasangan kita dan mulai merasakan kecemasan dan stress bahwa kita akan kehilangannya. Lalu pada saat kehilangan itu benar-benar terjadi, kita dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa ternyata impian kita, hubungan kita yang selama ini kita anggap nyata ternyata hanyalah ilusi yang menyesatkan.

Lalu dimualailah mimpi buruk itu: perasaan galau gemalau di saat bangun pagi, makan dan tidur yang tak nyaman, kesedihan dan kepedihan saat bayangan orang tersebut kembali berkelebat di ingatan dan sebagainya, dan seterusnya.

Baca lebih lanjut

English Cafe…

Bermula dari niat untuk memadukan unsur tehnologi ke dalam cara pengajaran saya, jadilah english cafe blog. Ia adalah sebuah blog yang berisi tugas-tugas serta renungan saya tentang pengajaran bahasa Inggris dan serba serbi pengajaran. Moga-moga bisa berguna buat semua. Ayo dong kunjungin! Hehe….