SUBANG : ANTARA INGATAN DAN KENYATAAN

…Dahulu…
Kau adalah sebuah ingatan tentang kehangatan. Tempat berkumpulnya saudara-saudara yang terserak di kota-kota nan jauh. Sebuah oase dimana kita bisa tertawa dan berbincang bersama. Di hari nan fitri, setiap tahun sekali. Dengan berbekal keikhlasan dan keinginan tuk maaf memaafkan, kita semua bertemu. Sebuah momen penting yang kukenang dalam aliran waktu.
Engkau adalah sebuah ranah imajiner dalam labirin ingatanku. Sebuah lokasi geografis seluas 205.176,95 hektar (6,34% dari luas propinsi Jawa Barat). Sebuah wilayah yang berbatas dengan Bandung, Purwakarta, Kerawang, Indramayu, Sumedang dan Laut Jawa.
…Kini…
Kau adalah sebuah kota yang kudiami. Di dalammu, aku bernafas, bekerja dan belajar. Tentang hidup, tentang segala hal. Termasuk yang baik dan buruk. Nama-mu mencuat saat salah seorang (bekas) artis, Primus Yustisio mencalonkan diri sebagai nahkodamu (baca: bupati). Dari dirimu, lahir seorang maestro yoyo yang membentuk komunitas yoyo se-Indonesia, Oke Rosgani. Juga terdapat Komunitas Blogger Subang yang digerakkan oleh kang Yahdi, Annas dan Oki Rosgani (saudara kembarnya Oke, hehe..). Dan banyak lagi orang-orang hebat yang sepertinya memang kurang terekspos oleh media. Merekalah “local heroes” yang menjadi panutan dari komunitasnya masing-masing.
Sisi kelam-mu pun ada. Permasalahan korupsi (yang sudah menjadi epidemic nasional, mengalahkan virus H1N1), pergaulan bebas (yang mengekor dari permasalahan urban kota-kota besar) juga merupakan wajah yang harus dicermati. Jika boleh sedikit merefleksikan semuanya, mungkin benar bahwa poverty is the root of all evil. Kemiskinan adalah biang dari segala kejahatan. Karena kemiskinan, orang tega mengambil apa yang bukan hak-nya. Dengan alasan yang sama, kehormatan dan harga diri bisa digadaikan. Di tengah-tengah sikap masyarakat yang makin permisif dan godaan konsumerisme yang semakin marak, dapatkah masyarakat Subang bertahan?
Jaman berganti, permasalahan akan terus ada. Dan kami bergumul dengannya, mencoba bertahan dengan segenap keyakinan masing-masing. Permasalahan yang kami hadapi tentu berbeda dengan daerah lain. Karenanya, mari berbagi semangat untuk mencoba bertahan. Dan merubahnya. Dalam skala kecil sekalipun. Ayo!

Komunitas Blogger Subang (II): Sebuah Saran

Komunitas Blogger Subang (sudah) masuk koran. Alhamdulillah. Tapi sebetulnya ini hanyalah langkah awal dari sebuah perjuangan yang (saya pikir) cukup panjang. Kata komunitas di judul wadah ini, mensyaratkan adanya kadar pertemanan yang cukup diantara anggotanya. Sekaligus, adanya pola pergerakan yang mandiri dan konsisten dari para pengurusnya. Hal ini seharusnya tercermin dari program-program yang dijalankannya. Nah, berhubung saya tidak termasuk dari para pengurus komunitas ini, ijinkanlah saya berandai-andai jika saya adalah salah satu dari mereka.

Merujuk pada kata komunitas, maka seharusnya KBS tidak saja wadah tempat berkumpul para anggotanya di dunia maya. Harus ada juga acara dimana persahabatan, pertemanan atau kumpul-kumpul (offline). Ini tentu saja penting untuk saling bersilaturahmi, tukar menukar informasi. Jadi paling tidak, sekali sebulan lah ngumpul (sambil ngeliwet…hehehe).

Kemudian jika ada departemen pendidikan, semestinya ia bisa mengembangkan program sosialisasi blog ke sekolah atau kampus-kampus. Perkembangan komunitas sangat bergantung pada pertambahan jumlah anggotanya. Dan anggota ini sebagian besar adalah kaum muda yang sangat “melek tehnologi”.

Kemudian setahun sekali cobalah adakan pesta blogger Subang. Di situ ada award-award-an kayak apa lah. Blog pendidikan terbaik, blog gosip terseru, blog usaha paling sukses dan lainnya. Undang pembicara blog yang sukses dari Jakarta atau Bandung. Buat acara makan-makan sambil ngobrolin perkembangan terbaru di dunia blog. Kalau perlu ada permainan (games) dan hiburan (karaoke, band asal jangan berlebihan).

Kemudian, coba bikin 1 buah blog yang isinya keroyokan. Namakan saja …… (isi sendiri yah). Jadikan ini sebagai blog bersama. Bukan hanya satu buah website yang punya link dengan berbagai blog di luarnya.

yah, paling begini dulu deh….mungkin kalo ada pikiran lain, bakal di posting lagi yah…sukses deh…

Dan Sang Kolonel pun Tersenyum…

“Subang kini punya tempat hangout baru: KFC. ”

“Duuh….KFC, baru KFC aja dah heboh. Norak loe…”

“Emang sih, di daerah lain, KFC mah dah biasa. Tapi ada signifikansi yang harus dilihat dari sini, bo.”

“Signikansi teh naon?…Jangan pake kalimat-kalimat susah ah. Mentang-mentang kamu tuh kuliah yey…”

“Signifikansi teh arti penting, bro. Jadi ada arti penting dari KFC itu bagi masyarakat Subang. Sebagai pengamat ekonomi dan sosial amatir, kita perlu melihat fenomena ini dengan lebih teliti, bos”

Baca lebih lanjut

Subang di tahun 1950-an

Subang adalah kota yang berasal dari perkebunan. Pada mulanya, daerah Subang adalah perkebunan yang dimiliki oleh Peter Willem Hofland. Ia merupakan pemilik dari wilayah perkebunan yang sangat luas. Untuk melakukan transportasi dari daerah-daerah yang luas ini, ia berinisiatif untuk mengimpor lori dari negara Belanda. Lori ini disebut dogong oleh masyarakat sekitar dan ditarik oleh lokomotif stoom. Di seluruh perkebunan dipasang jalur-jalur rel kereta api. Lori ini, disatu titik, mengalami persimpangan yang mengarahkannya ke daerah Sumurbarang, Manyingsal dan lainnya. Daerah ini yang disebut dengan daerah Wesel.

Di tahun 1886, nama perusahaan perkebunan miliknya yang bernama Perkebunan P&T (Pamanukan & Tjiasem) diganti dengan nama NV. Maatschappy Ter Exploitatie der Pamanukan en Tjiasem Landen. Kedepannya, tanah perkebunan ini mengalami 3 masa peralihan : tahun 1812-1839 menjadi milik Inggris, tahun 1840-1910 menjadi milik Belanda lalu terakhir di tahun 1911-1953 kembali di tangan Inggris. Pada tahun 1953, nama Belanda tersebut dirubah menjadi P&T Land N.V. Hasil perkebunan dari perusahaan ini meliputi teh, karet, sisal, singkong (tapioka), kapok, merica, coklat, kina, kopi dan padi.

Subang pada tahun 1950 adalah sebuah perkebunan karet yang luas. Pusat dari seluruh kegiatan di Subang

Baca lebih lanjut

Wadah Blogger Subang: Perlukah?

Subang, Jawa Barat, Indonesia, tidak lagi sebuah pulau terpencil di dunia maya. Walau hanya segelintir, tetapi geliat blogger yang berdomisili di kota Subang, saat ini mulai terlihat. Internet, sebagai bagian yang tak terpisahkan dari dunia sudah mulai menumbuhkan komunitas blogger yang semakin hari semakin bertambah. Ragam kalangan asal blogger dan tipe blog yang bermunculan di dunia maya juga sangat bervariasi.

Sebagian, masih berafiliasi dengan institusi pendidikan (seperti saya, hehehe dan fakultas hukum UNSUB). Lainnya ada juga yang milik pemerintah dan juga individu. Topik yang diangkat pun beragam, dari mulai event-event yang diselenggarakan di Subang, pandangan dan opini tentang kota Subang dan juga soal-soal keseharian yang ada dalam kehidupan.

Gejala ini menunjukkan 2 gejala yang cukup menggembirakan : (1) bahwa masyarakat Subang telah mulai mengenal dan bahkan menggunakan tehnologi internet dengan lebih maksimal. Tidak hanya masuk dan mencari informasi, chatting atau sekedar download lagu atau software saja tetapi sudah memasuki tahap karya yang bisa dinikmati oleh seluruh balaraya internet; (2) bahwa budaya menulis dan mengekspresikan sesuatu telah dimulai. Susahnya motivasi untuk menulis di kalangan masyarakat, tampaknya mulai terkikis sedikit demi sedikit dengan adanya perkembangan tehnologi blog.

Perkembangan selanjutnya dari gejala ini seharusnya menjadi perhatian serius dari pihak-pihak tertentu yang terkait. Salah satu ide yang mencuat darinya adalah perlukah dibentuk suatu wadah cair bagi aktivitas blogger yang berdomisili di Subang?

Bagaimana pendapat Anda?

SEC – GO GREEN!

mejeng sambil melukis kaleng

mejeng sambil melukis kaleng

Hari Minggu, biasanya saya berleha-leha di rumah hingga siang menjelang. Tapi khusus hari minggu (3 Agustus 2008) kemarin, saya harus bangun pagi-pagi dan mengayuh sepeda secepatnya ke kampus. Ada apa? Ada acara Go Green yang dilaksanakan oleh SEC (Sutaatmadja English Course)!

Acara yang dimulai jam 9-an ini, dibuka oleh berbagai aktivitas ritual yang biasa diselenggarakan oleh SEC: drama, nyanyi dan unjuk kreativitas oleh murid-murid SEC. Anak-anak yang lucu itu benar-benar menghibur para tamu yang datang. Nah, baru setelahnya ada “sesuatu yang berbeda” : presentasi dan aksi demonstrasi membuat kompos dan kerajinan tangan dari limbah sampah oleh kelompok GROPES (Gerombolan Peduli Sampah), Jakarta.

Baca lebih lanjut

Subang akan dipimpin artis?

Seperti juga daerah-daerah lain seperti Jawa Barat dan Tangerang, maka “invasi” artis untuk terjun ke dunia politik juga akan dirasakan oleh masyarakat Subang. Ini disebabkan terselipnya nama Primus Yustisio yang mendaftarkan diri sebagai calon independen untuk posisi Bupati Subang.Tampil dengan mengusung nama Agus Nurani sebagai pasangannya, kita akan melihat apakah “demam artis” di politik ini akan mengorbitkannya sebagai orang nomor satu di Subang.

Lebih lanjut baca artikelnya di sini.

Mendasarkan diri pada popularitas, memang salah satu kunci “marketing” yang jitu bagi para artis yang terjun ke arena politik. Wajah ganteng, tubuh atletis, populer merupakan modal yang tak bisa dianggap remeh dalam kontes popularitas seseorang. Ada 2 momentum yang menguntungkan dari sini : pertama, kecenderungan keberhasilan beberapa artis yang berhasil menjadi politisi sekaligus mendapatkan posisi yang cukup strategis di bidang pemerintahan. Rano Karno dan Dede Jusuf merupakan sosok yang pas dalam mewakili fenomena ini. Kedua, sistem pemilu kita memang memungkinkan bagi kemenangan popularitas pribadi daripada popularitas partai. Ini tentu “senjata” yang jitu bagi para calon independen.

Sejarah Lokal

Laki-laki itu telah berumur 80-an. Di pagi hari, rutinitasnya adalah berjalan ke luar rumah, entah untuk berolahraga ataupun membeli sesuatu. Dan ia melakukannya dengan konsistensi yang menakjubkan. Sepertinya hanya hujan dan sakit yang akan menghalangi kepergiannya.

Diluar itu semua, ia adalah tetangga saya. Dan ia orang yang (dimata saya) hebat.

Namanya H. Oeriya Sahidi, tapi kami lebih suka memanggilnya Ama. Bagi yang non-Sunda speaker, Ama adalah panggilan untuk orang tua. Dan usia itu-lah yang menjadi modal kehebatannya. Ama adalah seorang pengkoleksi cerita-cerita yang membentuk kolase sejarah Subang. Dia suka sekali dengan sejarah dan dengan kegigihannya, ia berhasil membuat sebuah “buku” yang berisi Sejarah Subang : Dari Zaman ke Zaman (1854 – 2004).

Baca lebih lanjut

We’ve moved…

Hi everyone!

Finally, I moved with my family. But it’s just another location in the same city, Subang. It took us a week to get things organize in our new house. My daughters, Safa and Giza are very happy because they had new friends there. Luckily, one of our neighbor’s daughter is also Safa’s friend at school.

There’s also a new change for me. Now, I’m riding a bike to work! Yup, it’s healthy and ozon-friendly. Due to the ridiculous price of BBM right now, I think it’s time for me to switch my transportation mode to bike.

Right now, in the morning, when I go to work I can see beautiful rice fields in the other side of the road. There’s a mist in the horizon and the bright sun is giving it’s spectacular light to the world. Thank God for it!…

new house