SOMETIMES I MISS THE BIG CITY LIFE

Sometimes I miss the busy, frantic, hectic life in the city. Sometimes there’s a side of me that resonate to that busyness.

Dan aku menggapai, terjatuh dan tergulung oleh kota itu.

Ada sebuah abnormalitas yang membeku di setiap mata yang kupandang. Sebuah sensasi kesepian yang tak kunjung terjelaskan. Rasa sepi di tengah keramaian. Rasa dingin di antara pijar lampu yang menyelimuti kota.

The night is never too dark in the city. There are thousand lights surrounding it. It’s a sure sign that it never sleep.

Beberapa orang tampak sedang bercengkerama di balik kaca-kaca café yang buka. Sosok-sosok temaram sedang berseliweran di jalan-jalan di depan mereka. Para pegawai toko yang menanti jemputan. Wajah-wajah lelah yang menantang ibukota. Para penjual makanan dan warung yang hanya buka di malam hari. Para supir taksi yang sedang santai menikmati rokoknya. Tukang-tukang ojek yang sedang menawarkan tumpangan kepada para pegawai tadi.

And at another corner. The dark side of the night…

Para ‘penjaja’ malam sedang berdiri di sebrang jalan. Menanti. Mengintai. Mengawasi dan diawasi. Dibalik senyum palsu dan gairah semu, apa yang sebenarnya mereka rasakan? Sebuah drive that was purely economic-kah?

Another survival technique that one has to develop to live in a crazy city like this one?

Sebuah ruang bisu yang menanti untuk disentuh oleh kebaikan? Sebuah jejak rekam nyata atas kemiskinan structural? Gaya hidup yang semakin permisif? Labirin semu dalam sebuah kota yang tak lagi punya hati bagi warganya?

But I love them too. I embrace them as well.

Rasanya kota ini telah berkali-kali membunuhku. Ia telah berpuluh-puluh kali melemparkanku ke udara lalu melindasku tanpa ampun. Apalagi sekarang ia telah berubah menjadi semi-venice (hahaha…) dengan banyaknya banjir. Ia telah renta, dan (semakin) tak sahabat. Jadi inget penggalan lagu Red Hot Chilli Pepper, Under the Bridge:

Sometimes I feel like I don’t have a partner,
Sometimes I feel like, my only friend
Is the city I live in, the city of angels
Lonely as I am,
Together we cry…

Iklan

Menghitung Hari…

Saya melewatkan beberapa hal di kurun waktu lalu: kemenangan Obama, kematian Amrozi, Pesta Blogger, rencana penurunan harga BBM, dll. Blog-pun rada terbengkelai. Maaf dan mohon maklum, ada UTS mahasiswa di depan mata.

Kini…saya sedang menghitung hari. Tahun 2008 akan segera berakhir. Dan saya sedang tiwikrama mode. Waktunya untuk menyendiri, menyepi di tengah keramaian. Berusaha untuk mencerna segala yang telah terjadi sepanjang tahun ini, lalu perlahan membuat rencana untuk tahun depan. Menata optimisme bahwa tahun depan akan lebih baik dari tahun ini.

Kemarin saya sudah membuat presentasi singkat mengenai rencana saya ke depan. Alhamdulillah, presentasi berjalan dengan baik. Saya harap dukungan terhadap program-program yang ada mewujud nyata. Ada optimisme yang besar dan keyakinan bahwa tahun depan akan berjalan lebih baik dari tahun ini. Tapi saya harus realistik bahwa kemungkinan gagal itu juga selalu membayangi.

Saya pernah gagal. Sering malah. Tapi saya harap semua itu membuat saya menjadi pribadi yang lebih baik. Lebih tabah dan sabar menghadapi segalanya. Saya hanya berkewajiban berusaha. Output dari usaha itu bukan terletak di tangan saya.

Inilah aku :

Bermain-main sambil tertawa

Antara sedih dan gembira

Di dalam rahim kehidupan…

Belajar dari Anak Kecil

Saatnya untuk istirahat sejenak. Menutup mata, menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Tiba saatnya untuk sejenak melupakan dunia di luar yang penuh dengan kekacauan, kesedihan dan kemarahan. Berdiam, meniti hati di sudutnya yang terdalam. Mengurai perlahan cangkur marut pikiran dan perasaanku.

Tak terasa, tanganku bergerak mengambil sebuah buku di tumpukan. Hmm…ah, ini dia! Sebuah komik dengan judul Yotsuba! Dan hup!Akupun akhirnya berkunjung ke dunia warna warni Yotsuba. Dunia kecil yang seru, lucu dan penuh dengan kenaifan seorang anak.

Komik Yotsuba

Komik Yotsuba

Yotsuba adalah seorang anak kecil yang diasuh secara single parent oleh ayahnya. Sikapnya selalu ceria, energik dan selalu ingin tahu. Cerita ini dimulai saat Yotsuba pindah ke tempat baru di kota. Di tempat baru ini, ia berkenalan dan berinteraksi dengan tetangganya (yang kebetulan) semuanya perempuan: Ena, Asagi dan Fuka. Kisah yang memperlihatkan keluguan dan kelucuan muncul dan mewarnai kehidupan sehari-hari Yotsuba. Komentar-komentar yang terlontar darinya terkadang memancing senyum atau minimal rasa geli di hati. Contohnya ketika ia dan ayahnya meminjam VCD di rental, Yotsuba dengan penuh terus terang berkata bahwa “Film yang dipinjam ayah dahulu, kata ayah membosankan”. Komentar yang diucapkan di depan ayah dan pegawai ini tentu saja membuat keduanya rikuh. Geerrr…..

Komik ini adalah ciptaan Koyohiko Azuma. Diterbitkan oleh Media Work di majalah bulanan Dengeki Daioh, komik ini mendapat penghargaan Excellent Award for Manga di tahun 2006 oleh Japan Media Art Festival. Info dan gambar ini tentu diambil dari situs Wiki.

Berjalan-jalan di dunia Yotsuba sangat menyenangkan!

Lebaran adalah…

Lebaran adalah kenangan. Tentang meja dan santapan yang terhidang. Sajian gelas dan piring yang dihias dan terbentang. Kerabat dan handai taulan yang berkunjung. Sebuah aliran manusia yang menderas datang.

Lebaran adalah gema takbir dari mesjid sebuah gang. Para remaja dan anak-anak yang bertanding memukul bedug di malam takbiran. Para sesepuh yang mengobrol bersama, ditemani oleh rokok, kopi dan kue-kecil lainnya.Tentang mikrofon yang bising dan ramainya kendaraan yang sibuk berkonvoi.

Lebaran adalah kolektivitas bantuan. Kumpulan ibu-ibu yang sejak sore datang untuk memasak. Tangan-tangan yang menumis, menggoreng dan membuat bumbu. Kenangan tentang kehangatan, tawa dan celetukan yang menggema di dinding-dinding dapur belakang.

Lebaran adalah kelelahan panjang akibat mudik. Wajah-wajah yang lelah setelah bertarung dengan ratusan kendaraan lainnya. Cerita tentang rute, jalur dan pengalaman di jalan. Tentang oleh-oleh, bawwan dan kardus yang terasa terlalu banyak memuat barang. Kerepotan ditenggarai matahari yang terik, jalanan yang macet serta anak-anak yang tak bisa diam barang sejenak. Lebaran adalah karnaval kerinduan untuk pulang ke asal, sebuah tempat yang tersesat di peta kenangan kita.

Lebaran adalah kenangan bersama. Tentang mereka yang masih kita jumpai dan yang tidak. Wajah-wajah yang baru dan yang hilang. Usang, didekap usia, dilalui masa. Kegembiraan dan kesedihan yang memasang lalu menyurut setelah perayaan habis. Berdenyut dan berjarak dalam peta hidup kita.

Lebaran adalah kenangan. Bagaimana denganmu?…

Dan Sang Kolonel pun Tersenyum…

“Subang kini punya tempat hangout baru: KFC. ”

“Duuh….KFC, baru KFC aja dah heboh. Norak loe…”

“Emang sih, di daerah lain, KFC mah dah biasa. Tapi ada signifikansi yang harus dilihat dari sini, bo.”

“Signikansi teh naon?…Jangan pake kalimat-kalimat susah ah. Mentang-mentang kamu tuh kuliah yey…”

“Signifikansi teh arti penting, bro. Jadi ada arti penting dari KFC itu bagi masyarakat Subang. Sebagai pengamat ekonomi dan sosial amatir, kita perlu melihat fenomena ini dengan lebih teliti, bos”

Baca lebih lanjut

Hijau…

Hijau bukan lagi sekedar warna.

Kini, “hijau” telah merambah ke berbagai bidang kehidupan.

Di bidang arsitektur, ia telah mewujud dalam rancangan rumah ataupun desain yang ramah lingkungan dan juga sustainable. Di bidang makanan, ia menjadi resep dan menu makanan organik. Di bidang gaya hidup, olahraga, bersantai di spa menjadi contoh yang bisa dikedepankan. Di bidang energi, ia menjadi sebuah usaha panjang untuk menemukan energi alternatif selain dari energi fosil.

Hijau tidak lagi sebatas slogan, ia telah jadi sebuah kesadaran global.

Tapi apa sih yang sebetulnya disebut dengan kesadaran global? Apakah ia sebuah (lagi-lagi) semboyang dari dunia maju yang diserap mentah-mentah oleh dunia berkembang? Apakah ia sesuatu yang dibungkus rapi tapi berintikan kapitalisme dan konsumerisme? Sesuatu yang timbul oleh rasa bersalah dan kesalahan Barat kepada Timur? Atau sebuah “kegenitan baru” dari suatu lapisan masyarakat yang menamakan dirinya kelompok menengah yang ingin membedakan diri dari kalangan di bawahnya?

Saya jadi teringat ucapan teman saya bahwa: “Disaat kita berlari sepenuh tenaga menuju modernisasi (Barat), dunia Barat sendiri sedang berjalan cepat menuju ke Timur.” Ironis, tapi saya rasa ia benar. Spiritualitas, pola hidup yang dekat dan bersahabat dengan alam, semakin menjadi pilihan masa kini.

Dan dunia-pun (seharusnya) kian hijau…

Tapi apakah hijau, apakah merah? Mana sih “Timur” dan dimanakah “Barat”?

And the answer my friend, is blowing slowly with the wind…

PS: ini salah satu cara supaya kamu bisa berpartisipasi menghijaukan planet ini.

SUKSES


Berlalunya waktu semakin mendekatkan kita kepada akhir.

Setiap hembusan nafas, semakin mendekatkan kita kepada akhir kehidupan. Setiap tahun, di sela-sela perayaan ulangtahun, saya selalu membisikkan pertanyaan dalam hati: berapa lama lagi waktu sisa saya untuk hidup ini? Pesimistis? Nggak juga sih. Lebih tepat sebuah kesadaran: bahwa hidup mempunyai awal dan akhir. Hidup selalu berubah dan ia tidak mengalami pengulangan yang sama. Karena itu (sebenarnya) yang penting adalah periode tengah saat kita mengisi hidup ini.

Baca lebih lanjut