KESALAHAN

Tulisan ini saya buat setelah dengan lelah menonton kegiatan pansus DPR berkait dengan dana Bank Century beberapa hari ini. Untuk sebuah “pertunjukan” di panggung politik negeri ini, acara tersebut telah -dengan sukses- mengalihkan perhatian publik dari gegap gempitanya infotaintment serta sinetron. Mengapa? Karena kesemua unsur dari infotaintment dan sinetron, sudah ada di sana: sensasi, gosip, intrik serta kelucuan-kelucuan yang terkadang bikin miris di hati.

Lalu, setelah berdiam, saya mencoba merefleksikan kesemua kejadian itu. Dan inilah sedikit refleksi yang bisa saya tumpahkan di halaman blog ini:

Apa sih pekerjaan paling gampang di dunia? Nyalahin orang lain. Padahal, di mana-mana juga orang tahu, kalau kita menunjuk seseorang….satu jari menunjuk orang lain, tiga jari lainnya menunjuk ke kita sendiri, kan? Artinya apa? Yah, artinya (sebenarnya) kita juga punya andil dalam kesalahan tersebut….hehehe….

Lanjutkan membaca

Prita : A Hero (among us)

Waktu kecil, saya (dan juga sebagian besar dari Anda, rasanya) punya cita-cita untuk menjadi pahlawan superhero. Dan karena jaman itu yang paling nge-trend adalah superhero versi Barat, maka gambaran saya tentang superhero adalah seperti Superman, Batman, Spiderman, dll. Superhero adalah seseorang yang mempunyai kekuatan istimewa, hebat, bisa melakukan apa yang orang lain nggak bisa.
Namun seiring dengan waktu, gambaran tentang hero itu berubah. Seorang hero bukanlah orang yang mempunyai kekuatan super, bisa ngangkat mobil, ngejebol tembok (itu mah tukang bangunan juga bisa) dan terbang (ini sih burung juga sanggup). Seorang hero buat saya adalah orang-orang biasa yang mengalami hal-hal yang luar biasa ataupun mampu melakukan perubahan yang luar biasa kepada orang sekelilingnya.
Prita merupakan contoh terkini dari kedua hal ini.

Lanjutkan membaca

Keseharian di tengah berita-berita ‘Besar’

Kasus KPK dan skandal Bank Century benar-benar menjadi sebuah berita bak “sirkus di dalam kotak kaca”. Isyu-isyu besar sepertinya mengalahkan berita-berita yang lebih menyentuh hidupku : gerimis, UTS yang baru kelar, tarif air dan listrik yang “tak terasa” membesar dan sebagainya.

Baiklah, ijinkan aku bercerita tentang gerimis: gerimis kini datang sebagai bagian dari keseharianku di waktu siang dan sore. Baru beberapa hari ini saja matahari tampak terang menyapaku lewat jendela ini. Sinarnya menjadi sesuatu yang berharga di tengah-tengah hari yang mendung dan kelabu.

Terbitnya gerimis mengundang teman lamanya kembali: payung. Payung yang mempunyai banyak corak di dalamnya: garis-garis, polkadot, dll. Payung yang selalu membawa kenangan pada saat-saat aku dan kamu berjalan berdua menyelusuri selasar kampus, nun jauh di waktu yang terus berlalu.

Saat berbicara tentang gerimis dan payung, aku menyadari sesuatu.

Lanjutkan membaca

PAGI INI MEMBAWAKU KEMBALI PADAMU…

Kenangan  ini akan kutinggalkan. Saat cahaya matahari pecah. Saat  ia telah siap menyapa musim yang menua. Melepaskan diri dari asalnya.

Janji waktu telah kugenapi dan aku kan membiarkan bayangmu tersimpan rapi di hati.

Diantara pantulan camar-camar laut itu telah kutinggalkan sebingkai ingatan di kelok waktu Sesuatu yang indah, saat rindu dan rasa begitu membuncah.

Pagi ini, biarlah kenangan meresap ke dalam setiap pori tubuhku. Biarlah pagi ini membawaku kembali padamu…

TREND BARU PARTISIPASI POLITIK DI INDONESIA

Penggunan situs Facebook sebagai basis penggalangan dukungan terhadap sebuah gerakan social telah memperlihatkan adanya fenomena baru dalam politik Indonesia. Media facebook yang semula, murni besifat non-partisipan (hanya situs social) telah berubah oleh aktivitas member-nya yang mulai menyeretnya ke ranah politik. Tindakan ini tidak berbeda dengan tindakan Barrack Obama dalam kampanye-nya, misalnya. Tapi berbeda dengan AS, di Indonesia, inisiator gerakan ini dimulai dari orang-orang biasa yang “gemas” dengan perkembangan politik di Indonesia.

Masyarakat, menurut Arthur F. Bentley (the Process of Government,1908), terdiri dari kelompok-kelompok yang saling memiliki kepentingan yang berbeda. Karena perbedaan ini, maka masyarakat selalu berada pada titik tegangan antara consensus dan dis-sensus. Dalam rangka pencapaian equilibrium di dalam masyarakat, maka kelompok-kelompok saling bersaing dalam rangka memperbesar fluiditas dan akuntabilitas kekuatan politiknya. Di titik inilah, media berada. Ia memegang peranan dalam rangka memperbesar, mempersempit dan bahkan menghilangkan akuntabilitas politis sebuah kelompok. Partisipasi sebuah kelompok dalam sebuah proses politik, ditentukan oleh ada tidaknya media yang sanggup mem-back-up pandangan serta opini-opini yang diberikannya.

Lanjutkan membaca

KUAT ATAU SALING MELEMAHKAN?

Cicak lawan buaya? Siapa yang akan menang? Mungkin jawabannya tak lagi penting sekarang. Bak cerita sinetron yang penuh dengan intrik, perkembangan kasus KPK versus Kepolisian ini berkembang ke arah yang tak pernah terduga sebelumnya. Dan tentu saja, ia menjadi pemberitaan utama di berbagai media selama berhari-hari. Dan semua itu pada akhirnya membuat saya….capek sekali.

Lanjutkan membaca

STUDY TOUR + COMPANY VISIT = JALAN2 SAMBIL STUDI…

mejeng bareng-bareng

mejeng bareng-bareng

“Lagi ngapain, Run?”

“Nggak ngapa-ngapain, di rumah aja. Lagi bosen nih”.

“Ya udah, kita jalan-jalan yuk!”

Kita terkadang (seringkali) merasa bosan dengan rutinitas. Tidak terkecuali (terutama) dengan para mahasiswa dan dosen. Kuliah, tugas, ujian seringkali mengkristalkan sebuah perasaan jenuh yang harus dicari solusinya: jalan-jalan.

Eits, tapi bukan sembarang jalan-jalan lo. Karena saya bekerja di lembaga pendidikan, ada tuntutan untuk melakukan perjalanan yang ada kejelasan manfaat dan maknanya. Jadinya, yah kita namakan ini sebuah program berjudul study tour dan company visit. Di STIESA ini, study tour dilakukan oleh mahasiswa semester I dan company visit dilakukan oleh semester III.

Lanjutkan membaca

The Marriage

Sulit sekali untuk menentukan cinta itu apa dan dimana ia berada. Kita tak pernah dapat memposisikan cinta sebagai sesuatu yang biological-kah (pengaruh dari hormonal manusia), emosi atau berkaitan dengan intelektualitas tertentu. Karenanya, sangat mustahil untuk mengetahui bagaimana pasangan yang saling bertolak belakang dapat bertahan awet sepanjang hayat sedangkan yang punya banyak kesamaan malah jadi berantakan.

Sangat tidak mungkin untuk menghindari pemberitaan tentang KD dan Anang akhir-akhir ini. Di berbagai media (tertulis maupun layar kaca) berita rencana perceraian mereka terus beredar tanpa berhenti. Sebagian besar orang terkaget-kaget karena hal ini, mereka susah mengerti mengapa pasangan yang sudah lama bertahan ini malah sepakat untuk berpisah. Isyu perselingkuhan mengemuka dan akhirnya berubah menjadi topan pemberitaan yang melodramatis. Kini, para reporter bak hewan kelaparan berlomba-lomba untuk meliput kehidupan kedua artis tersebut.

Cinta, memang tidak cukup untuk mengawetkan hubungan dua pasang manusia.

Lanjutkan membaca

Say no to bomb, say yes to life!

marriot jakarta

Terorisme adalah tindakan yang membuat dan menyebar luaskan teror. Melalui tindakan individu yang didukung oleh organisasi, maka teroris menghasilkan adikarya teror yang mengalami pelipatgandaan masif via media. Dengan setting panggung yang berlumuran darah ala film action, teror ini menggiring para apresiatornya ke mindset yang penuh dengan ketakutan, kemarahan dan kecurigaan.

Lanjutkan membaca

POP

mj

Budaya pop adalah budaya yang terlahir sebagai ‘protes’ terhadap budaya tinggi (high culture). Sebagai sebuah budaya adiluhung, maka budaya tinggi kerap dimiliki oleh para penguasa, tiran dan aristocrat dalam sebuah masyarakat. Sedangkan budaya pop masuk dalam kategori budaya massa yang berkiblat pada massa. Pengertian massa disini tidak hanya mengarah pada para penikmatnya (massa, orang kebanyakan) tapi juga proses produksinya yang mengenal istilah massifikasi (massification of products). Proses ini mengalami akselerasi yang berlipat-lipat kali akibat adanya peranan tehnologi.

Sebagai sebuah budaya, maka pop memiliki icon-icon tersendiri. Michael Jackson adalah salah satunya. Ikon sepertinya diperlukan sebagai lambang atau symbol pencapaian tertentu. Dalam hal ini, di Michael Jackson, saya menemukan perpaduan antara kekuatan tari, music dan visual yang berkelindan secara indah, menggugah dalam bungkus produk yang menghibur sekaligus banal.

Lanjutkan membaca