26
Nov
Oleh bisma pada Uncategorized. Tinggalkan sebuah Komentar

Kenangan ini akan kutinggalkan. Saat cahaya matahari pecah. Saat ia telah siap menyapa musim yang menua. Melepaskan diri dari asalnya.
Janji waktu telah kugenapi dan aku kan membiarkan bayangmu tersimpan rapi di hati.
Diantara pantulan camar-camar laut itu telah kutinggalkan sebingkai ingatan di kelok waktu Sesuatu yang indah, saat rindu dan rasa begitu membuncah.
Pagi ini, biarlah kenangan meresap ke dalam setiap pori tubuhku. Biarlah pagi ini membawaku kembali padamu…
17
Nov
Oleh bisma pada Uncategorized. Tinggalkan sebuah Komentar
Penggunan situs Facebook sebagai basis penggalangan dukungan terhadap sebuah gerakan social telah memperlihatkan adanya fenomena baru dalam politik Indonesia. Media facebook yang semula, murni besifat non-partisipan (hanya situs social) telah berubah oleh aktivitas member-nya yang mulai menyeretnya ke ranah politik. Tindakan ini tidak berbeda dengan tindakan Barrack Obama dalam kampanye-nya, misalnya. Tapi berbeda dengan AS, di Indonesia, inisiator gerakan ini dimulai dari orang-orang biasa yang “gemas” dengan perkembangan politik di Indonesia.
Masyarakat, menurut Arthur F. Bentley (the Process of Government,1908), terdiri dari kelompok-kelompok yang saling memiliki kepentingan yang berbeda. Karena perbedaan ini, maka masyarakat selalu berada pada titik tegangan antara consensus dan dis-sensus. Dalam rangka pencapaian equilibrium di dalam masyarakat, maka kelompok-kelompok saling bersaing dalam rangka memperbesar fluiditas dan akuntabilitas kekuatan politiknya. Di titik inilah, media berada. Ia memegang peranan dalam rangka memperbesar, mempersempit dan bahkan menghilangkan akuntabilitas politis sebuah kelompok. Partisipasi sebuah kelompok dalam sebuah proses politik, ditentukan oleh ada tidaknya media yang sanggup mem-back-up pandangan serta opini-opini yang diberikannya.
Lanjutkan membaca
17
Nov
Oleh bisma pada Uncategorized. 1 Tanggapan
Cicak lawan buaya? Siapa yang akan menang? Mungkin jawabannya tak lagi penting sekarang. Bak cerita sinetron yang penuh dengan intrik, perkembangan kasus KPK versus Kepolisian ini berkembang ke arah yang tak pernah terduga sebelumnya. Dan tentu saja, ia menjadi pemberitaan utama di berbagai media selama berhari-hari. Dan semua itu pada akhirnya membuat saya….capek sekali.
Lanjutkan membaca
9
Okt
Oleh bisma pada Uncategorized. 5 Tanggapan

mejeng bareng-bareng
“Lagi ngapain, Run?”
“Nggak ngapa-ngapain, di rumah aja. Lagi bosen nih”.
“Ya udah, kita jalan-jalan yuk!”
Kita terkadang (seringkali) merasa bosan dengan rutinitas. Tidak terkecuali (terutama) dengan para mahasiswa dan dosen. Kuliah, tugas, ujian seringkali mengkristalkan sebuah perasaan jenuh yang harus dicari solusinya: jalan-jalan.
Eits, tapi bukan sembarang jalan-jalan lo. Karena saya bekerja di lembaga pendidikan, ada tuntutan untuk melakukan perjalanan yang ada kejelasan manfaat dan maknanya. Jadinya, yah kita namakan ini sebuah program berjudul study tour dan company visit. Di STIESA ini, study tour dilakukan oleh mahasiswa semester I dan company visit dilakukan oleh semester III.
Lanjutkan membaca
20
Sep
Oleh bisma pada Uncategorized. 4 Tanggapan
Sulit sekali untuk menentukan cinta itu apa dan dimana ia berada. Kita tak pernah dapat memposisikan cinta sebagai sesuatu yang biological-kah (pengaruh dari hormonal manusia), emosi atau berkaitan dengan intelektualitas tertentu. Karenanya, sangat mustahil untuk mengetahui bagaimana pasangan yang saling bertolak belakang dapat bertahan awet sepanjang hayat sedangkan yang punya banyak kesamaan malah jadi berantakan.
Sangat tidak mungkin untuk menghindari pemberitaan tentang KD dan Anang akhir-akhir ini. Di berbagai media (tertulis maupun layar kaca) berita rencana perceraian mereka terus beredar tanpa berhenti. Sebagian besar orang terkaget-kaget karena hal ini, mereka susah mengerti mengapa pasangan yang sudah lama bertahan ini malah sepakat untuk berpisah. Isyu perselingkuhan mengemuka dan akhirnya berubah menjadi topan pemberitaan yang melodramatis. Kini, para reporter bak hewan kelaparan berlomba-lomba untuk meliput kehidupan kedua artis tersebut.
Cinta, memang tidak cukup untuk mengawetkan hubungan dua pasang manusia.
Lanjutkan membaca
22
Jul
Oleh bisma pada Uncategorized. 3 Tanggapan

Terorisme adalah tindakan yang membuat dan menyebar luaskan teror. Melalui tindakan individu yang didukung oleh organisasi, maka teroris menghasilkan adikarya teror yang mengalami pelipatgandaan masif via media. Dengan setting panggung yang berlumuran darah ala film action, teror ini menggiring para apresiatornya ke mindset yang penuh dengan ketakutan, kemarahan dan kecurigaan.
Lanjutkan membaca
22
Jul
Oleh bisma pada Uncategorized. Ditandai:budaya pop, michael jackson, pop. Tinggalkan sebuah Komentar

Budaya pop adalah budaya yang terlahir sebagai ‘protes’ terhadap budaya tinggi (high culture). Sebagai sebuah budaya adiluhung, maka budaya tinggi kerap dimiliki oleh para penguasa, tiran dan aristocrat dalam sebuah masyarakat. Sedangkan budaya pop masuk dalam kategori budaya massa yang berkiblat pada massa. Pengertian massa disini tidak hanya mengarah pada para penikmatnya (massa, orang kebanyakan) tapi juga proses produksinya yang mengenal istilah massifikasi (massification of products). Proses ini mengalami akselerasi yang berlipat-lipat kali akibat adanya peranan tehnologi.
Sebagai sebuah budaya, maka pop memiliki icon-icon tersendiri. Michael Jackson adalah salah satunya. Ikon sepertinya diperlukan sebagai lambang atau symbol pencapaian tertentu. Dalam hal ini, di Michael Jackson, saya menemukan perpaduan antara kekuatan tari, music dan visual yang berkelindan secara indah, menggugah dalam bungkus produk yang menghibur sekaligus banal.
Lanjutkan membaca
29
Jun
Oleh bisma pada Uncategorized. Ditandai:local heroes, Subang. 2 Tanggapan
…Dahulu…
Kau adalah sebuah ingatan tentang kehangatan. Tempat berkumpulnya saudara-saudara yang terserak di kota-kota nan jauh. Sebuah oase dimana kita bisa tertawa dan berbincang bersama. Di hari nan fitri, setiap tahun sekali. Dengan berbekal keikhlasan dan keinginan tuk maaf memaafkan, kita semua bertemu. Sebuah momen penting yang kukenang dalam aliran waktu.
Engkau adalah sebuah ranah imajiner dalam labirin ingatanku. Sebuah lokasi geografis seluas 205.176,95 hektar (6,34% dari luas propinsi Jawa Barat). Sebuah wilayah yang berbatas dengan Bandung, Purwakarta, Kerawang, Indramayu, Sumedang dan Laut Jawa.
…Kini…
Kau adalah sebuah kota yang kudiami. Di dalammu, aku bernafas, bekerja dan belajar. Tentang hidup, tentang segala hal. Termasuk yang baik dan buruk. Nama-mu mencuat saat salah seorang (bekas) artis, Primus Yustisio mencalonkan diri sebagai nahkodamu (baca: bupati). Dari dirimu, lahir seorang maestro yoyo yang membentuk komunitas yoyo se-Indonesia, Oke Rosgani. Juga terdapat Komunitas Blogger Subang yang digerakkan oleh kang Yahdi, Annas dan Oki Rosgani (saudara kembarnya Oke, hehe..). Dan banyak lagi orang-orang hebat yang sepertinya memang kurang terekspos oleh media. Merekalah “local heroes” yang menjadi panutan dari komunitasnya masing-masing.
Sisi kelam-mu pun ada. Permasalahan korupsi (yang sudah menjadi epidemic nasional, mengalahkan virus H1N1), pergaulan bebas (yang mengekor dari permasalahan urban kota-kota besar) juga merupakan wajah yang harus dicermati. Jika boleh sedikit merefleksikan semuanya, mungkin benar bahwa poverty is the root of all evil. Kemiskinan adalah biang dari segala kejahatan. Karena kemiskinan, orang tega mengambil apa yang bukan hak-nya. Dengan alasan yang sama, kehormatan dan harga diri bisa digadaikan. Di tengah-tengah sikap masyarakat yang makin permisif dan godaan konsumerisme yang semakin marak, dapatkah masyarakat Subang bertahan?
Jaman berganti, permasalahan akan terus ada. Dan kami bergumul dengannya, mencoba bertahan dengan segenap keyakinan masing-masing. Permasalahan yang kami hadapi tentu berbeda dengan daerah lain. Karenanya, mari berbagi semangat untuk mencoba bertahan. Dan merubahnya. Dalam skala kecil sekalipun. Ayo!
19
Jun
Oleh bisma pada Manajemen, Renungan, remeh temeh. Ditandai:complaint, prita. Tinggalkan sebuah Komentar

Sekarang kalau membuka facebook, saya dihujani dengan ajakan untuk ikut cause yang berjudul bebaskan ibu Prita. “Ya ampyun…..ada lagi yang ngajak aku? Hrrgggh….”
Siapa sih yang nggak tahu kasus Prita saat ini? Mungkin hanya orang-orang yang puasa baca koran dan tv aja yang nggak tahu. Polemik, perbincangan hingga diskusi di berbagai media merupakan media yang mem-blow-up kasus ini hingga jenuh.
Tapi saya lalu bertanya dalam hati: Siapa sih yang nggak pernah salah di dunia ini? Semua orang pasti punya salah, karena memang manusia tempatnya salah. Nggak terkecuali sebuah rumah sakit yang bernama RS Internasional Omni di wilayah Tangerang tersebut. Jadi sebenarnya, kesalahan adalah sesuatu yang wajar banget. Manusiawi bahkan.
Tapi semestinya, sebagai sebuah institusi yang menawarkan jasa kesehatan, hendaknya Omni punya sistem yang merespon complaint apapun dengan cara yang luwes dan elegan. Enggak lucu ah, kalau seorang konsumen yang ingin mengajukan keluhan tentang sesuatu malah dikenakan saksi menginap di sel selama 3 minggu. Ih, enggak banget deh….hahaha..
Seharusnya kalau ada sebuah sistem yang apik, complaint dari seorang konsumen dapat dilihat sebagai hal yang positif. Dengan adanya complaint yang baik, maka institusi yang menawarkan jasa mempunyai kesempatan untuk lebih meningkatkan kualitas dirinya.
Selain itu, adanya complaint, jika ditanggapi dengan baik akan lebih mengikat hati konsumen terhadap sebuah produk. Contohlah MacDonald yang tidak membuat burger dengan daging sapi di India, karena disana sapi dianggap suci.
Kepekaan terhadap pelanggan, adalah kunci bagi kesuksesan usaha di segala bidang. Lagipula harap diingat bahwa ” to eer is human, to forgive is divine”. Salah itu manusiawi, memaafkan itu ilahi. Selamat mengelola complaint!..
Foto: by thespeedphreak @flickr
27
Mei
Oleh bisma pada Renungan, remeh temeh. Ditandai:musik melayu, polemik lagu melayu. 14 Tanggapan
Tren Melayu di belantika music Indonesia mengundang polemik. Hal ini terjadi seiring adanya komentar dari beberapa musisi tanah air yang mencap music jenis ini sebagai sebuah degradasi (penurunan mutu). Hal ini sampai menimbulkan kesan ‘perang dingin’ antara musisi yang –terus terang – membuat saya suka senyum-senyum sendiri. Sebegitu immature-nya kah musisi kita?
Menurut WIKI, perkembangan music Melayu di Indonesia telah mulai sejak lama. Dahulu, kita mengenal adanya music Orkes Melayu yang masih menggunakan gitar akustik, akordeon, rebana, gambus dan suling sebagai instrument utamanya. Pada periode 50 dan 60-an, orkes-orkes Melayu di Jakarta ini memainkan lagu-lagu Melayu Deli asal Sumatera (sekitar Medan). Perlahan, seiring perkembangannya, unsur India mulai juga masuk ke dalam music Melayu. Ellya Khadam dengan hits “Boneka India”-nya merupakan representasi dari gejala ini. Selain itu masih ada penyanyi lain seperti P.Ramlee (Malaysia), Said Effendi (dengan lagu Seroja) dan lainnya yang mempopulerkan genre music ini.
Tonggak perkembangan music Melayu (yang berkelindan dengan music dangdut) adalah dengan adanya Soneta Group, pimpinan Rhoma Irama di tahun 1970-an. Setelah itu, music Indonesia diwarnai oleh beragam genre yang merupakan unsur-unsur asing seperti Rock, Reggae, Heavy Metal hingga SKA dan Grundge (Alternative). Pada masa ini, musik Melayu memasuki periode hiatus alias mati suri. Hal ini terbukti dengan tidak banyaknya musisi baik solo maupun group yang mengusung genre Melayu. Di periode ini, lagu Melayu yang paling saya ingat adalah “Isabela” yang disuarakan grup Malaysia, SEARCH.
Namun sebagaimana jenis seni apapun (mo fashion, painting, dll), music juga mengalami proses recycle. Unsur-unsur Melayu yang pernah dinyatakan “mati”, usang dan nggak nyeni itu mulai ngetop lagi dengan adanya grup-grup seperti ST 12, Wali, Hijau Daun dan lainnya. Bahkan Soneta “reinkarnasi” kembali di sosok Ridho Roma.
Saya nggak bisa main music. Jangankan nyanyi, bersiul aja fales (hehe…). Tapi saya suka dengerin music (Indonesia ada di list atas lo!). Dan saya nggak suka kalau music terlalu dikotak-kotakkan. (Kotak kan nama band juga….loh, kok ngaco? ). Buat saya, lagu yang enak dan group atau musisi yang kreatif nan berbakat akan selalu punya pasarnya sendiri. Enggak usahlah kita sibuk membuat komentar yang nggak-nggak tentang orang lain. Kalau enggak suka dengan sesuatu, buktikan saja dengan kerja keras dan karya yang lebih bagus. Kayaknya itu lebih baik daripada bergunjing dan berkonflik dengan orang lain. Se7?….Yeah!.